Pages

Assalamualaikum... Selamat datang di duniaku, enjoy my blog
Tampilkan postingan dengan label Love. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Love. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Agustus 2014

Dan B itu bukanlah aku

 “Aku hanya akan menyentuh bidadari, jika kamu mengijinkan”
Aku menatap layar HP. Dia selalu bisa membuatku tersenyum.
“Cukuplah kamu untukku” Pria ini kembali mengeluarkan kalimat romantisnya.
+++
Begitulah hari-hari yang kulalui satu tahun terakhir. Siang malam diliputi kebahagiaan, memiliki Seorang suami yang sangat menyayangiku.
Namaku Ninda Syaifitri terlahir dari keluarga sederhana 30 tahun yang lalu.
Kami berkenalan secara tidak sengaja disebuah meeting. Entah sejak kapan dia memperhatikanku, namun selama ini aku kira dia hanya main-main. Tapi lama-kelamaan dia berkata serius menyukaiku dan ingin segera melamarku.
Namanya Abimanyu, terlahir lima tahun lebih muda dariku.
Ketika aku mengetahui perbedaan umur ini, aku sedikit ragu, tapi ternyata itu hanya ada dipikiranku. Keinginan kami untuk menikah disambut hangat keluargaku juga keluarganya. Hanya tiga bulan berselang semenjak perkenalan dan dua bulan persiapan, penikahan kami pun berlangsung. Sebuah cincin emas putih serta seperangkat alat sholat menjadi pelengkap kebahagiaan kami.
Hari-hari selanjutnya adalah hari-hari terindah kami.
+++
“Nda..” Katanya suatu hari, “Pas aku beli sepeda motor ini, aku nggak tau kenapa aku memilih ini, padahal aku tidak tinggal disini” Pria ini berbicara sambil tersenyum disampingku.
“Lalu?” tanyaku penasaran.
“Sekarang aku baru tau Nda, ternyata aku akan menemukan bidadariku di kota ini, kota yang Plat Nomor kendaraannya B” jawabnya dengan senyum yang sangat manis.
+++
“Nda...” Sebuah sms kuterima.
“Ya..” jawabku malas.
“Nama kamu Ninda, aku biasa memanggilmu “Nda”, mulai sekarang kata itu bukan lagi berarti “Ninda” melainkan “Bunda”.
“Terserah kamu saja” jawabku ringan.
“Dan kamu tak apa memanggilku dengan “Abi”, karena “Abi” disini kita artikan sebagai ayah, kamu setuju kan?” tanyanya lagi.
“Iya, aku setuju”.
+++
“Nda..” Satu sms di kali berikutnya.
“Hmm..”
“Kamu percaya ga kalo kita memang berjodoh?”
“Kenapa?”
“Iya Nda, soalnya nama kita saja panggilannya sudah berpasangan, Nda.. Bunda berarti ibu dan Abi berarti ayah”
“Oh ya..”
“Satu lagi Nda, kesamaan tanggal lahir ayah kita. Bukankah ini merupakan tanda bahwa kita memang benar-benar berjodoh?”.
Belakangan kami memang sangat terkejut karena mengetahui kesamaan tanggal, bulan dan tahun lahir kedua ayah kami. Bahkan watak dan hobi mereka pun sangat mirip.
“Iya Abi, semoga saja ini pertanda bahwa kita akan selalu bersama” Jawabku, kali ini dengan penuh harap.
+++
Suatu hari, aku pergi keluar kota untuk urusan pekerjaan tanpa sepengetahuan Abi. Reservasi hotel dilakukan teman atas namaku.
“Halo, dengan mbak Ninda?” tanya orang diseberang sana.
“Iya benar” Jawabku.
“Mbak Ninda pesan kamar dihotel kami?” ternyata telepon dari resepsionis hotel tempat kami akan menginap besok malam di Jakarta.
“Iya mas” Jawabku singkat.
“Berapa kamar mbak dan untuk berapa orang?”
“Dua kamar mas untuk tiga orang, dua cewek dan satu cowok”
“Oke, satu kamar atas nama mbak Ninda, satu kamar lagi atas nama pak Abi ya?”
“Enggak mas, atas nama pak Joni” Jawabku bingung.
Dan betapa bahagianya, ketika subuh-subuh sebuah ketukan mengejutkanku. ternyata Abi juga sedang berada di sana, di kota yang sama, hotel yanga sama, lantai yang sama dan dia berapa dikamar yang persis bersebelahan dengan kamarku. Malam itu kami hanya dipisahkan oleh tembok kamar. Abi selalu menyebut hal seperti ini dengan “jodoh”.
+++
Pernah suatu ketika dia mengajakku ke kampus tempat kuliahnya dulu. Kampus yang sangat sangat berngengsi dizamanku.
“Kata teman-teman, disinilah tempat kuliah anak-anak pilihan” Kataku menatap puncak gedung dihadapan kami.
“Dan salah satunya adalah calon suamimu ini” Ucapnya sambil menoleh kepadaku.
Senyumnya indah banget, sebuah senyum kemenangan yang menyiratkan bahwa aku layak bangga padanya.
+++
“Mbak Ninda, tunggu sebentar ya, Auditornya masih sibuk semua, silakan duduk dulu” Sapa ramah  pak Joko yang menyambutku.
“Iya, makasih pak” ucapku disertai senyum seadanya.
Pikiranku tertuju pada pemandangan persis di sebelah kanan ku berdiri. Apa yang aku lihat telah membuat dadaku sesak dan seluruh sendi kakiku kaku. Seorang wanita muda sedang duduk didepan meja Abi. Wanita itu asyik dengan HP ditangannya tanpa memperdulikan orang-orang disekeliling. Abi juga sedang sibuk, matanya turun naik kebawah bergantian memperhatikan kertas diatas meja serta layar komputernya. Saking sibuknya, sehingga sepertinya Abi tidak sadar akan kehadiranku.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 13.30 wita, aku ijin ke mushola untuk menunaikan sholat zuhur. Didepan mushola Abi sudah menunggu, menyuruhku bersegera berwudhu. Dia menungguku untuk sholat berjamaah di mushola yang sudah mulai kosong. Ketika akan mengambil mukena, ternyata ada orang lain disana yang telah siap dengan mukenanya. Aku penasaran dan mencoba berbincang ringan dengannya. Dia ramah sehingga aku nyaman untuk menanyakan beberapa hal yang membuatku penasaran. Dari situ aku tau ternyata dia adalah adik kelas dari adik-adikku yang artinya dia lebih muda sepuluh tahun dariku dan kami tinggal dikota yang sama.
“Ehm..”
Tiba-tiba terdengar suara Abi berdehem, tanda bahwa dia telah siap untuk sholat. Aku, tepatnya kami berdua langsung paham dengan isyarat itu dan seketika menutup mulut lalu mengikuti Abi mengangkat takbir.
Pulang kantor aku langsung kerumah Dian. Kuceritakan semua yang kualami hari ini padanya. Dadaku semakin sesak, tak terasa air mataku mengalir.
“Nda.. ikhlaskan Abi. Pasti ada laki-laki lain yang lebih baik untukmu” Ucap Dian mencoba menghiburku.
“Tapi aku ga bisa Dian" Jawabku terbata.
“Ninda, aku tahu ini berat buat kamu, tapi kamu harus realistis, hubungan kalian terpisah jarak umur yang belum bisa diterima oleh orang tua Abi. Sadarlah Nda, kita hidup didunia nyata”.
Tiba-tiba kepalaku terasa sangat berat. Aku tersadar, bahwa pernikahan itu hanya ada dalam khayalanku.
+++
“Nda, bangun” Suara Dian membuyarkan lamunanku pagi itu. “Kamu harus segera ke kantor”.
Bergegas ku berdiri, bercermin. Dua mata yang sembab, hidung yang merah serta rambut yang acak-acakan. Ingin sekali aku menghilang dari dunai ini, namun itu tidak mungkin.. Inilah kenyataan yang harus kuhadapi. Tiga bulan setelah pernikahanmu, baru tadi malam aku mengetahui bahwa wanita itu lah yang menjadi isterimu kini, dia yang tinggal satu kota denganku.

Abi, ternyata B itu bukan aku..

Jumat, 07 Maret 2014

Lukisan Perasaan

Allahuakbar...!! Allahuakbar...!!!

Gema takbir lantang berkumandang, suara zikir semakin jelas terdengar, doa-doa dipanjatkan bahkan suara azan pun terdengar. Seorang gadis menangis tertahan agar tidak menambah panik penumpang yang lain. Akupun hanya bisa beristigfar, memohon ampun pada Penciptaku. Dalam zikir, wajah ibu selalu muncul, aku banyak salah kepada ibu, sering menyakiti hatinya, membebani pikirannya.
Sesekali ku lirik Mbak Anti, tangannya erat bersedekap, matanya rapat dan mulutnya tak berhenti komat kamit. Seorang bapak disamping kananku,  tepat disisi jendela tetap tenang menatap lurus kelangit-langit, tangannya bergerak-gerak tak beraturan.

Suara gemuruh itu datang lagi, badan pesawat terombang ambing, bergetar hebat kekanan dan kekiri. sesekali aku merasa pesawat sedang terjun bebas, terasa melayang seisi perut, namun tak lama badan pesawat perlahan naik dan kembali tenang. Suara zikir dan doa-doa terus terdengar. Tanganku basah, kakiku kaku, aku menggigil ketakutan. Dalam gelap aku menangkap kilatan cahaya lampu pesawat yang sedang mencoba menerobos awan hitam disekelilingnya.
"Ya Allah... inikah caraku meninggalkan duniaMu?" sekilas terbayang wajah kedua orangtua yang tadi sore melepas kepergianku.
"Apakah itu akan menjadi kali terakhir pertemuanku dengan mereka?" hatiku menjerit seakan tak rela. Aku belum bisa membahagiakan mereka. Ya, aku belum bisa memenuhi keinginan ibuku, permintaan yang akhir-akhir ini sering terucap dari mulutnya, permintaan yang jika terwujud mungkin akan mengurangi beban pikirannya.
Menikah. Itulah keinginan ibuku saat ini. Ibu sangat ingin agar aku segera menikah. Tapi aku tidak punya target kapan harus menikah. Selama ini aku percaya bahwa setiap makhluk didunia ini diciptakan berpasang-pasangan. "laki-laki baik untuk wanita yang baik, wanita baik untuk laki-laki yang baik. Begitu juga sebaliknya". Tapi kapan dan dimana, itu yang masih menjadi rahasia Illahi.

Kutahan airmata yang hampir meleleh. Kutarik nafas dalam-dalam "Ya Rabb,  ampuni dosa-dosaku. Aku pasrah" jeritku sambil terus berzikir.

Setengah jam sudah pesawat kami berputar-putar dalam gelap. Sebentar naik sebentar turun, penumpang pesawat masih diselimuti ketakutan. Perlahan-lahan getaran dipesawat mulai berkurang, sepertinya pilot sudah berhasil menemukan koordinat yang tepat untuk mendarat.
Lampu-lampu rumah dan jalanan terlihat membesar. Benar dugaanku, pesawat sebentar lagi akan landing. Jantungku mulai tenang. Ketika ban belakang pesawat mulai menyentuh tanah, seketika itu bergemuruhlah ucapan hamdalah memenuhi kabin pesawat. Dalam remang dapat kutangkap wajah-wajah pucat yang berseri kembali, wajah-wajah lelah yang penuh syukur. Alhamdulillah, pesawat mendarat dengan selamat di bandara Adi Sucipto Jogjakarta. Hujan lebat dan angin kencang menyambut kedatangan kami dikota ini.

Jadwal kami disini cukup padat. Aku, Mbak Anti, Mbak Dina dan Nira memilih hotel yang ada di Jl. Dagen Malioboro, agar dekat dengan objek-objek wisata dan tempat-tempat belanja.
Malam pertama di Jogja, aku ajak Nira untuk berjalan-jalan disepanjang Malioboro, melihat-lihat kreatifitas warga Jogja.
Nira senang sekali diajak jalan-jalan di Malioboro. Tangan dan matanya tak henti memperhatikan barang-barang yang ditawarkan. Walau masih shock dan lelah, namun aku senang melihat keceriaannya.
Aku sendiri bingung, belum ada barang yang memaksaku untuk memperhatikannya.

Ketika Nira asyik menawar selembar baju, mataku terpaku pada deretan lukisan mungil. Ada lukisan wajah, pemandangan di sawah, perabot rumah, abstrak, bunga dan lain-lain. Cukup kreatif. Hanya sepotong papan kecil namun bisa menjelma menjadi indah dengan adanya lukisan diatasnya. Kupandangi lukisan itu, sederhana namun indah. Memandangi lukisan-lukisan itu, mengingatkanku pada rumah impian bersama seseorang yang masing menjadi tanda tanya. Aku bayangkan jika lukisan itu dipajang diruang makan, pastilah suasana makan menjadi lebih berwarna. Tak perlu lama berpikir, kuputuskan untuk membeli tiga buah lukisan.

"Materi kita hari ini adalah tentang sirah Nabawiyah" terngiang suara mbak Laila di acara liqo beberapa bulan yang lalu. Mbak Laila bercerita bahwa Khadijah melamar Rasulullah saw karena sifat beliau yang amanah.
'Cerita ini menggambarkan bahwa tidak salah jika wanita yang terlebih dahulu mengungkapkan perasaan suka kepada laki-laki. Apalagi jika laki-laki yang dituju memang baik dan sholeh.'
Diliqo satu minggu yang lalu pun, dalam kajian tentang Pakaian Muslimah Mbak Laila juga berpesan kepada kami yang belum menikah agar memilih pasangan hidup yang sholeh. karena menikah bukan untuk sementara. Menikah adalah gerbang menuju surga. 'jangan sampai setelah menikah keimanan kalian berkurang. Carilah laki-laki yang akan membimbing kalian ke surga' kata Mbak Laila.
Aku miris teringat seorang teman yang tadinya istiqomah berbusana muslimah, namun setelah menikah, sedikit demi sedikit pakaiannya berubah menjadi minimalis. Disinilah harusnya peran suami agar mengembalikan istri pada hakikatnya. Namun dalam kisah ini, justru suaminyalah yang memintanya seperti itu.

"Hayoooo, melamunkan apa?" Tanya nira tiba-tiba
"Ah kamu.. hmm kenapa Nir?"
"Bagus yang mana bu" tanyanya sambil menating dua lembar baju
"yang pink oke" jawabku
Nira kelihatannya senang dengan pilihanku.
Kami akhiri jalan-jalan malam itu dengan baju berwarna pink.

Sepanjang jalan aku masih teringat lamunan yang baru saja mampir diotakku.
Rasulullah saw bersabda 'Laki-laki itu dipilih karena hartanya, keturunannya, fisiknya dan agamanya. Maka pilihlah yang agamanya baik'.

Aku sadar bahwa aku bukanlah wanita terbaik. Aku sadar bahwa aku banyak kekurangan, karena itu, aku berharap dia mau membimbingku memperbaiki diri disisa umurku, menuntunku menuju surgaNya. Membantuku mendidik dan membesarkan anak bersama-sama.

'kesempurnaan adalah ketika dua orang laki-laki dan perempuan yang memiliki kekurangan bersatu untuk saling melengkapi' kata Putri Herlina.

Bagiku pernikahan bukan hanya soal memenuhi keinginan orang tua, tapi jauh lebih dari itu. Bagiku pernikahan adalah gerbang menuju kehidupan yang lebih baik dan terfokus. Pernikahan adalah bagaimana aku menerima orang yang akan aku jadikan sebagai imam, pembimbingku menggapai ridho Illahi. Pernikahan adalah bagaimana aku menyiapkan ayah terbaik untuk anak-anakku kelak. Pernikahan adalah awal baru dalam hidup yang membawa kita pada kebersamaan dalam mengarungi sisa umur, dalam suka dan duka.



"Wanita ini,
tidaklah semulia Khadijah
tidaklah setaqwa Aisyah
Pun tidak setabah Fatimah
Justru hanyalah wanita akhir zaman
yang punya cita-cita, menjadi sholehah".


Pelaihari, 07 Maret 2014

Kamis, 30 Januari 2014

KADOKU KADOMU


Hari ini aku dan Rina sepupuku pergi berjalan-jalan ke sebuah pasar tradisional yg ada di kota. Kami menginap satu malam disini. Rina ingin membeli sebuah hape baru, dan aku? aku sudah merencanakan sesuatu, karena itu aku mau bercapek-capek ria pergi ke kota dengan alasan menemani Rina.
“Masih lama nggak nih?” tanyaku pada Rina.
“Bentar aja” sahutnya.
“Udah berapa kali bentar sih Rin?”
“Sedikit lagi”
“Ayo dong tanya om nya, masih lama nggak?”
“Santai aja, kelihatannya tinggal sedikit”.
+++


“Assalamualaikum”
“Waalaikum salam” terdengar suara perempuan di telepon.
“Maaf mbak, saya yang tadi pagi menelpon. Bagaimana mbak, sudah ada barangnya?”
“Ada”
“Warna biru?”
“Maaf mbak, birunya sudah habis, yang ada tinggal warna merah”
“Kan saya pesannya warna biru mbak”
“Iya, tapi stok di toko kami tinggal warna merah”
“Hmmmm,,,tutupnya jam berapa mbak?”
“Jam 5 sore”.
+++
Jam ditanganku sudah menunjukkan pukul empat lewat lima belas menit. Perjalanan menuju ke toko itu cukup jauh dan biasanya sore seperti ini sudah mulai macet.
“Rin, sudah belum?”
“Sebentar…”
Aku mulai kesal, ku ambil kunci sepeda motorku, tanpa pikir panjang ku pacu motor matic ku lurus.
Benar dugaanku, jalanan mulai macet. Sesekali aku harus menurunkan kaki karena penuhnya bermacam-macam kendaraan yang berlalu lalang.
Lima belas menit sudah aku terjebak dalam macet. Kalau tidak cepat, aku bisa kehilangan harapan untuk sampai tepat waktu ke tempat yang kutuju.
Sekali lagi aku harus menurunkan kaki. Bapak paruh baya disampingku kelihatan tergesa-gesa, keringatnya bercucuran. Tanpa sengaja mataku tertuju pada sebuah tempat dibelakangnya. ”Nah inilah jawabnya”.
Segera kuputar arah sepeda motorku menuju ke sana. Dengan harapan bisa menemukan barang yang aku cari.
Tanpa buang-buang waktu, aku langsung menuju ke sebuah tumpukan yang lumayan besar. Kubuka satu persatu. Ada yang bagus, bagus banget, biasa, biasa banget, lucu, warna warni, berukir, berseri, Tapi tetap saja bukan yang aku inginkan.
Yang kecil? Aku takut dia kesulitan. Yang besar? takut susah dibawa. Yang bermotif? Terlalu ribet. Yang mana ya?“ Gumamku.
Sekali lagi kukelilingi tumpukan ini, namun masih saja aku belum menemukannya. Kuurut dari atas sampai bawah. Kubuka-buka mencari yang sesuai, setidaknya mirip dengan keinginanku.
Sudah hampir putus asa aku mencarinya, “Tidak mungkin ditempat sebesar ini, barang seperti itu tidak ada” pikirku, sampai tanpa sengaja mataku tertuju pada sesuatu yang agak menjorok kedalam, posisinya terjepit diantara teman-temannya yang lebih besar. Pelan-pelan kutarik dan… Alhamdulillah betapa lega hatiku. Ini bukan saja mirip, tapi inilah yang selama ini aku cari. Persis dan ternyata hanya tinggal satu.
Benda ini mengingatkanku pada kejadian lima bulan yang lalu.
+++
Alarm hape ku berbunyi, sudah pukul empat subuh. Kulangkahkan kaki menuju tempat wudhu.
Aku siap memulai hari ini dengan rencana yang sudah tersusun rapi.
Semoga sukses, Bismillah…
+++
Pukul 6.30
Ku ambil hape butut dari saku baju, ku tekan beberapa angka…

(Hope u always happy ^_^)

Sabtu, 26 Oktober 2013

Fahri

'Kamu sudah beli kabel antena La?' tanya Mbak Wina mengejutkanku.
'Astagfirullah, aku lupa lagi Mbak, ntar malam ya, sekalian mau ke atm’. Aku jadi merasa tidak enak, soalnya sudah dua hari ini aku kelupaan untuk membeli kabel itu.
Mbak Wina bekerja disebuah perusahaan swasta, karena itu setiap hari pulangnya sore. Dan celakanya hari ini aku lupa lagi membeli kabel untuk antena tv kami, yang baru akan disambungkan alias  numpang dengan antena tetangga sebelah. Maklum anak kos, maunya irit tenaga dan irit biaya. Sebelumnya kami menggunakan tv berlangganan, tapi karena jarang ditonton, akhirnya kami putuskan untuk berhenti berlangganan. Walhasil, kemarin aku mengungkapkan keinginan untuk nebeng dengan antena tetangga sebelah.
Ba'da magrib aku bergegas mengenakan gamis katun kuning dan jilbab krem bermotif garis-garis hijau favoritku. kusambar kunci mio yang nongrong manis diatas kulkas.
'Mau aku temenin La?'
'Ga usah Mbak, aku sebentar aja kok, deket juga'
'Hati-hati ya'

Beberapa menit kemudian aku sudah berada diatas jalan raya. Roda motor mioku berputar sangat cepat. Aku sengaja ngebut. Aku sangat jarang keluar malam, kecuali untuk hal yang sangat mendesak, seperti malam ini.
'Kabel untuk antena ada koh?' tanyaku pada koh Ahong
'Ada, berapa meter?' jawabnya ramah
'Lima belas meter ada koh?’
'Ada, nih' jawab koh Ahong sambil memperlihatkan kabel yang aku minta.
'Berapa?'
'Lima belas ribu’
kurogoh uang sepuluh ribu dan lima ribuan dari dalam saku. Setelah menyerahkan uang dan mengambil barang yang kubeli, akupun segera balik arah.
Diarah jalan pulang, tak lupa aku mampir di atm. Persediaan sudah mulai menipis. Aku memang jarang menyimpan banyak uang di dompet, menurutku lebih aman dan nyaman menyimpannya di bank, apalagi sekarang atm ada dimana-mana.
Masuk ke halaman sebuah bank, mataku tertuju pada dua buah mobil yang terparkir persis didepan atm, Toyota Avanza dan sebuah Grand Livina. Aku memarkir motorku diantara kedua mobil itu. Ada dua orang di dalam ruang atm, suami istri, tepatnya tiga orang bersama anak mereka yang masih balita. Sungguh sebuah keluarga harmonis idamanku. Betapa tidak, sudah lama aku mendambakan sebuah keluarga seindah itu, kemana-mana selalu bersama. Namun untukku, terbayang pun belum, yang ada sekarang hanya pekerjaan menumpuk yang tak pernah ada habisnya, terus berputar seakan tanpa ujung.
Tiba-tiba mataku tertuju pada seseorang yang sedang bersandar pada Grand Livina. Sesaat aku tak bergeming, aku takjub dan kagum akan pemandangan yang kulihat. Hanya satu kata terucap dalam hati 'Subhaanallaah'.
Pemandangan dihadapanku kini adalah seorang pemuda memakai hem cokelat panjang hampir mencapai lutut, celana kain semata kaki, sendal celup khas bapak-bapak dan tak ketinggalan sebuah peci berwarna abu-abu.
Didagunya menyembul janggut yang tertata rapi. Perawakannya kurus tinggi mengingatkanku pada sosok Fahri di film Ayat-ayat Cinta, salah satu film favoritku.
Sepasang suami istri tadi cukup lama didalam atm. Jika kuperhatikan sempat beberapa kali mengeluarkan dan memasukkan kartu atmnya, mungkin terjadi kesalahan. si Fahri pun masih tenang menunggu antrian. Sesekali aku mencuri pandang kearahnya, namun dia hanya menunduk menekuri tanah, tak sedikitpun terusik oleh kehadiranku. Ah laki-laki yang beda. Sudah tiga tahun aku tinggal dikota ini, namun baru kali ini aku melihatnya.
Tak lama kemudian sepasang suami istri pun keluar. Sang istri tersenyum ramah padaku dan dengan seketika mereka menghilang dari hadapanku.
si Fahri bergegas masuk. Entah perasaan apa yang menggelitikku untuk melihat plat mobilnya. Perlahan selangkah demi selangkah kaki ku mundur, kepalaku melongok mengintip bagian belakang mobil, ku baca gigi. ya, nomor plat mobilnya 9191. hahaha, ternyata dia punya selera humor yang cukup bagus.
Si Fahri tak lama dalam atm, begitu keluar dia segera masuk dan mengemudikan mobilnya meningglkan aku yang masih terkagum-kagum atas pemandangan unik yang baru saja kutemui. Kukatakan unik, karena kupikir aku sudah jarang menemukan anak muda dengan dandanan ala Ayat-ayat Cinta dan KCB. Apalagi ini Bali, tentu yang sering kelihatan adalah bule-bule yang dandanannya semau mereka. Itu kenyataan yang benar benar nyata.
Aku masuk dalam ruang atm, memencet tombol-tombol di keyboard atm sambil senyum-senyum. Senyum absurd, hehe.


'Assalamualaikum...'
'Waalaikum salam' sahut Mbak Wina.
'Ada kabelnya La?'
'Alhamdulillah ada Mbak' sahutku sambil menyerahkan kabel yang kubawa kepadanya.
Tiba-tiba hp ku berbunyi, seorang teman lama menelponku 'Assalamualaikum La, apa kabar?'
'Alhamdulillah baik Rob'
'Syukurlah, Alhamdulillah aku sekeluarga juga sehat'
'Begini La, ada teman kuliahku dulu sewaktu di S1 yang baru mutasi ke kantor barunya di Denpasar'
'Oh ya, kerja dimana?'
'Di NGO yang khusus mengurusi masyarakat miskin, dia sangat menyukai pekerjaannya karena bisa membantu orang-orang yang kurang beruntung'.
'Trus'
'Umurnya baru dua puluh lima tahun, tapi orang tuanya sudah mendesak untuk menikah. Karena kesibukan pekerjaan, dia jadi tidak sempat bergaul. Dia minta tolong kepadaku untuk mencarikan seseorang untuk dilamarnya sebagai istri. Kriterianya ga neko-neko, baginya yang penting shalihah. La, aku rasa kamulah orangnya.'
'Kok bisa?' kujawab ragu.
'Iya La, aku kenal dia sejak awal dia masuk asrama. Aku bisa tau wanita seperti apa yang akan cocok dengannya. Oh iya, dia juga sudah tau sedikit tentang kamu. Salah seorang teman Liqonya juga merekomenasikan namamu kepadanya. Namanya Pak Mustofa. Kamu kenal dia La? katanya satu kantor denganmu.'
"Tentu aku kenal Rob, dia bosku'
'Jadi gimana La, apa kamu terima? Kenalan dulu deh' 
'Oke akan kucoba, tapi aku ga bisa janji, kamu kan tau kisahku Rob'
'Ya, aku percaya kamu bisa dan aku yakin bahwa kalian akan cocok. Sip La, tunggu kabar selanjutnya ya. Assalamualaikum'.


Jujur sampai hari ini aku belum siap untuk membuka hati lagi setelah kegagalanku tahun lalu.
'Bagaimana kalau dia ku perkenalkan saja dengan Mbak Wina?' Pikirku.
'Kalau urusan ibadah, kita harus mendahulukan diri kita' begitulah kira-kira kalimat Azam yang sedang menasehati Hafiz di film KCB yang seolah-olah sedang menasehatiku.
Bunyi sms masuk dari Hp membuyarkan lamunanku. 'La, aku sudah memberitahunya, dia akan menemuimu besok ba'da asar dikantin sebelah kantormu, apa kamu bisa?'
'Insyaalah Rob, aku bisa'.
'Dia akan cocok denganmu La, aku yakin'.
Klik, kututup hp dengan perasaan tak karuan. Ada apa sih, inikan perkenalan biasa, akan sama saja seperti perkenalan-perkenalan sebelumnya. Ya aku memang seringkali dijodoh-jodohkan teman-teman yang menginginkan aku segera menikah menyusul mereka. Harapan yang bagus dan pastinya itu juga harapanku. Namun sampai hari ini aku belum menemukannya, laki-laki yang benar-benar cocok dan nyambung denganku.
'Dia akan cocok denganmu La, aku yakin'. Kuulang lagi membaca kalimat ini. Kenapa Roby bisa begitu yakin?. Aku jadi penasaran dengan dia. Oh iya, aku lupa menanyakan namanya pada Roby.


Pagi hari berjalan seakan lambat. Toko-toko disepanjang jalan masih buka seperti biasa menawarkan barang jualannya. Bule-bule hilir mudik disepanjang trotoar. Sekilas tidak ada yang berubah disini, tapi kenapa aku merasa ada yang lain?. Entahlah.
Azan Ashar berkumandang. Bergegas aku mengambil wudhu, aku larut dalam sujud panjang.
Kali ini kukenakan gamis hijau lumut, kupadu dengan kerudung warna senada.
Bismillah.. aku berangkat menuju kantor yang hanya berjarak dua kilometer dari kost ku.
Aku mengambil kursi agak didepan. Kuputar pandangan, namun tak ada satupun tamu laki-laki yang memakai baju berwarna biru langit. Juga tak ada mobil berwarna perpaduan hitam dan putih ditempat parkir.
Dari arah lain diluar halaman, aku melihat sebuah mobil yang sepertinya sudah tak asing bagiku sedang mendekat dan masuk ke halaman. Gigi, tepatnya DK 9191 KU.
Deg, jantungku berdetak lebih kencang ketika menyadari warna bagian bawah mobil itu adalah putih dan bagian kapnya berwarna hitam. Masyaallah.. ucapku terbata-bata.
Klik, pintu mobil terbuka, keluarlah seorang berperawakan kurus tinggi, dengan jenggot yang rapi dan hem berwarna biru langit. Subhanallah.., benarkah ini ya Allah?.
Wajahnya cerah, dari jauh aku melihat senyumnya yang terkembang.
Masih... orang-orang masih hilir mudik disekitarku, namun kini semua seperti slow motion.. lambat dan sangat lambat.
Assalamualaikum, anda yang bernama Nafilah?' tanyanya ramah.





                                                                       Pelaihari, 05 Oktober 2013


Minggu, 15 September 2013

Cerita Cinta Andini

CERITA CINTA ANDINI

Ku tatap langit-langit kamarku, Hmm.. masih seperti satu bulan yang lalu. Bantal dan gulingku juga, masih seperti satu bulan yang lalu, tidak ada yang berubah. Tampak ada bekas coretan pena di salah satu sisinya, inisial nama seseorang.
Di suatu sudut yang kusisakan untuknya, ternyata masih seperti satu bulan yang lalu, kosong. Kau berkata bahwa pertengahan bulan yang akan datang, kau akan menemaniku disini, tapi malam ini ternyata aku masih sendiri, dalam kekosongan.

Tak terasa air bening menetes dipipinya, Andini menyapu dengan lembut. Diteruskannya membaca alur cerita romantis dari sebuah akun fb, sambil sesekali matanya menerawang ke balik angin-angin jendela kamarnya, mencoba menangkap remang-remang cahaya bulan.
Ditariknya nafas panjang, dicobanya sekali lagi untuk tersenyum.

Pagi ini Andini ada janji dengan konsultan, untuk membicarakan tentang proyek baru di perusahaan tempatnya bekerja. Posisi barunya, mengharuskan dia untuk rutin berkonsultasi agar semua langkah pekerjaan bisa berjalan lancar dan PR diakhir tahun, mungkin akan benar-benar membuatnya stress.

“Aku nggak mau kau menerima tawaran itu, usahakan dulu jangan sampai mereka berhasil memaksamu”

Sangat jelas dalam ingatan Andini, ketika dulu seseorang dimasa lalunya benar-benar marah jika ia menerima posisi ini. Tapi sekarang dia terjepit, sangat tipis kemungkinan untuk tidak berada disini, walau sesungguhnya, hatinya pun menolak dengan keras. Namun realitas berhasil mengalahkan keteguhan hatinya.
Sepanjang jalan menuju kantor konsultan, Andini terus menekuri jalan itu, jalan yang sering dilaluinya dengan hati bergetar tak jelas. Ya, Andini mungkin akan bertemu dengan Bayu hari ini. Gedung yang ditujunya adalah juga gedung yang sama 2 tahun yang lalu, tempat pertama kali mereka bertemu.
“Din, itu Bayu kan?” Tanya Rani mengagetkan.
“Mana?
Sebuah mobil sedan hitam berpapasan dengan mereka, tepat di pintu gerbang gedung yang mereka tuju.
“Iya Ran, itu Bayu”
“Mau kemana dia, nggak kangen sama kamu?”
“Mungkin ada janji sama klien”.
Rani memarkir mobilnya ditempat biasa, mereka berjalan memasuki lorong panjang sebuah gedung perkantoran. Tidak susah mencari ruangan Pak Ilham, diujung lorong lantai satu itulah tempatnya.
“Selamat pagi” ucapnya
“Pagi.. hai, bu Andini” pak Ilham segera berdiri, mengisyaratkan kepada OB untuk mengambilkan dua  buah kursi dan kemudian mempersilahkan keduanya untuk duduk.
Andini mengedarkan pandangan keseluruh ruangan. Rupanya sudah terjadi perubahan besar disini. Posisi duduknya sudah tidak seperti satu bulan yang lalu. Sebagian meja dihiasi dengan tanaman mungil, dengan warna khas kesukaan Bayu, hijau. Apakah ini ide Bayu? Sepertinya dia mencoba untuk menghilangkan kenangan kami disini.
Andini berpaling menghadap dinding di belakangnya. Kertas itu pun sudah tidak ada. Sebuah kertas kecil yang dulu menempel disitu, penggalan kalimat yang terus memotivasinya hingga kini, yang diarsir dengan warna kesukaan Andini, biru dan kuning.
Namun bukan itu yang mengusik perasaannya, yang ada dipikirannya kini adalah kenapa Bayu tak menghiraukannya ketika mereka berpapasan di gerbang tadi? Mengapa Bayu pergi padahal dia tahu akan kedatangan Andini?. Andini ingin protes dan secepatnya menelpon Bayu, tapi segera niat itu diurungkannya.

“Bagaimana bu, apa yang bisa saya bantu?” tanya pak Ilham memulai pembicaraan. Andini tersenyum sambil menyerahkan berkas-berkas yang sedari tadi dipangkunya kepada Rani. Dia ingin keluar, menghirup udara segar.
Perpisahan ini, bukan keinginan kita, aku yakin, inilah takdir Yang Maha Kuasa. Maafkan aku Bayu, bukannya aku memutuskan silaturrahim denganmu, tapi aku takut, benteng yang sekarang sudah sedikit-sedikit aku bangun, akan hancur lagi jika kita terus berkomunikasi. Biarlah semua tanda tanya ini menguap seiring bergantinya hari, bulan dan tahun. Sekali lagi, maafkan aku.


15 September 2013

Sabtu, 14 September 2013

KENANGAN MANIS DI SOEKARNO HATTA

"Kenangan manis di Soeta"

Ngatuk mulai menjalar di mataku, Peserta lain tak jauh beda. Ada yang mencari-cari permen untuk mengurangi kantuk. Ada yang membolak balik buku, memutar pulpen, bahkan ada yang sempat-sempatnya memotong kuku yang lupa dipotong jum'at kemarin sehingga sudah kehitam-hitaman.

Sementara itu, Ibu Sri terus melanjutkan tugasnya sebagai pembicara dihari pertama diklat kami di UI Jakarta. Samar-samar aku teringat sosok cewek manis dengan senyumnya yang malu-malu.

Subuh senin aku sudah mandi, siap-siap untuk melaksanakan apel gabungan di lapangan Pemkab Sidoarjo yang berjarak hanya 5 menit dari kosku. Tapi alangkah kecewanya aku karena mendapati hujan gerimis yang tak kunjung reda.
Jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi, sambil hujan-hujanan nekat kularikan motorku menuju kantor.

Tak biasanya sepagi ini aku sudah nongkrong dikantor, ini karena sore ini aku dengan dua orang temanku Mas Nur dan Pak Arif akan terbang ke Jakarta untuk mengikuti Diklat Keuangan dan Aset Daerah selama tiga hari, untuk itu aku harus menyiapkan semua keperluan dan memastikan tidak ada yang tertinggal.
Surat menyurat sudah lengkap, tiket pun sudah dibeli. Garuda Indonesia, jam 6 sore.

Jam 4 sore kami sudah berkumpul di kantor, tak begitu lama mobil yang akan mengantarkan kami ke bandara datang. Aku langsung membanting tubuhku dikursi belakang.

Mobilpun melaju kencang, membelah jalanan kota Surabaya yang masih basah seusai hujan.

"Astagfirullah...kita sudah terlambat" kata pak Arif memecah kesunyian.
"mana mungkin pak, ini kan masih jam 4" sahutku.
Pak Arif segera menyerahkan lembaran tiket kepadaku.
Ternyata kami yang lupa mengecek ulang jam keberangkatan kami. Alhasil, setiba di Bandara Juanda, dugaan kami benar "Pesawatnya sudah take off lima menit yang lalu mas" kata Petugasnya padaku.

Dengan langkah gontai kami terpaksa keluar untuk membeli tiket yang baru, Alhamdulillah masih ada pesawat yang akan berangkat ke Jakarta sore ini. Tak seberapa lama menunggu, kamipun dipersilahkan untuk menaiki pesawat. Para penumpang masih berdesak-desakan ketika kami sudah sampai di seat 28, no kursiku, Mas Nur dan Pak Arif. Terlihat beberapa Pramugari membantu penumpang menyimpan barang bawaan dan beberapa yang membantu mengeratkan sabuk pengaman.

Ketika pesawat tinggal landas beberapa Pramugari mulai berbaris sambil memegang alat peraga. Kali ini aku tidak terlalu memperhatikan mereka, karena sedari tadi aku sibuk memperhatikan seorang Pramugari yang berada dibelakang layar..hehe..maksudnya dibelakang gorden pembatas ruangan. Wajahnya sederhana, namun tidak bosan dilihat. Senyumnya yang khas mengundangku untuk selalu menikmatinya.
Sepertinya dia adalah Pramugari baru di Maskapai Penerbangan ini, terlihat jelas dari tangannya yang gemetar saat memegang sebuah contekan yang sedang dibacanya.
"Untuk membuka sabuk pengaman, angkat tumpukan besi" ucapnya yang tetap samar-samar ditelingaku.
Aku terus memperhatikan gerak geriknya, tanpa sengaja mata kami beradu pandang, dia terlihat gugup dan sempat ada kesalahan pengucapan, karena itu dia segera menyembunyikan diri dibalik gorden.
"Tiba diriku, dipenghujung mencari cinta
Diri ini tak lagi sepi, kini...aku tak sendiri.."
Terngiang-ngiang lagu yang dinyanyikan Pasha dengan istrinya yang mantan seorang Pramugari.
"Apakah awal pertemuan mereka juga seperti ini?" pikirku.
Aku terus melamun sambil tersenyum...Pesawat sudah melaju ke langit kota Jakarta.



"Setelah selesai menganalisis dan memasukkan kedalam jurnal, yang selanjutnya harus kita lakukan adalah memposting ke buku besar", suara ibu Sri kembali jelas terdengar membuyarkan lamunanku.

Ah... gadis manis itu, entah kapankah bisa bertemu lagi.
Masih jelas dalam ingatanku, dia mengantarkanku sampai ke pintu pesawat dan memperhatikanku yang semakin menjauhi menuju terminal Bandar Udara Soekarno Hatta.


                                                                                               Surabaya, Oktober 2012

Sabtu, 08 Desember 2012

CINTA SEJATI

"Cinta Sejati hanya datang satu kali seumur hidup dan ketika saat itu tiba, akan ada campur tangan Allah didalamnya".


Untuk yang masih jomblo, sabar aja yaa..insyaallah akan segera tiba waktunya hari pernikahan kamu. Amin. :-)