Pages

Assalamualaikum... Selamat datang di duniaku, enjoy my blog
Tampilkan postingan dengan label Trip. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Trip. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 April 2015

Bamboo rafting di Loksado



Hari itu kamis, 02 April 2015 sekitar pukul tujuh pagi aku dan teman-teman dijemput dirumah Indah.
Kami sempatkan sarapan di warung ketupat kandangan di desa padang Bati-bati. Selesai sarapan perjalanan berlanjut, tiba di Martapura kami bergabung dengan rombongan yang lain lalu berjalan beriringan sampai di pasar kandangan. Waktu menunjukkan pukul 11 lewat, kami mampir dulu di rumah orang tua bu Mega yang terletak di belakang pasar. Setelah rombongan berikutnya datang, kami makan siang di pojokan pasar, warung sederhana namun menunya lengkap, Banjar bangeeet..

Numpang narsis di tugu hari jadi HSS
Makan siang di pasar Kandangan
Usai sholat zuhur kami melanjutkan perjalanan ke Loksado. Sebelumnya aku tidak pernah ke sana, jalannya menanjak, dikiri jalan berupa tebing dan dikanan jurang, mirip sekali jalan ke puncak, hanya saja tanaman disini bukan teh melainkan sawit, karet ato tanaman buah juga tanaman hutan.

Satu jam melalui perjalanan menanjak cukup membuatku tegang dan berasa trauma untuk lain kali kesini lagi. Setelah lelah berspot jantung ria akhirnya tibalah kami di cottage yang sudah dipesan kemarin. Cottage ini terletak di Desa Tanuhi, persis di obejek wisata pemandian air panasnya. Pemandangan lumayan indah dengan bangunan-bangunan terpisah bergaya eropa. Melihat pemandangan seperti ini aku teringat salah satu tempat di Malaysia, yaitu Berjaya Hills, sayang kemarin kami tidak sempat mampir kesana.

Cottage Tanuhi
Di area cottage ini terdapat satu buah kolam renang besar, kolam kecil dan beberapa kolam pemandian air panas, baik yang besar maupun kecil. Satu buah bangunan kantin dan satu buah tempat resepsionis dan gudang.

Cottage ini dibangun per buah, dengan dua kamar dibawah dan diatas, serta dua buah garasi mobil di kanan dan dikiri. Tangga untuk keatas pun berada di garasi jadi tidak menggangu penghuni kamar yang dibawahnya.

Setelah berbenah dan melepas lelah sebentar, kami mulai berkeliling sambil menunggu lanting (susunan batang bamboo yang diikat) yang disiapkan untuk kami sore itu. 

Pukul 5 waktu di jam tangan kami, kami berangkat, diantar dengan mobil menuju tempat turun ke lanting. Ada perasaan takut saat itu, karena itu kan bertepatan dengan malam jum’at apalagi si bapak bilang kalo perjalanan ditempuh dalam waktu 1,5 jam, itu artinya magrib kami baru sampai.

Dengan harap-harap cemas aku menginjakkan kaki dilanting, diikuti teman-teman yang lain. Ingin sekali aku berkata tidak jadi ikut, tapi perasaan lain mengatakan, kapan lagi aku bisa merasakan sensasi naik lanting yang sudah lama aku inginkan. Dengan mengucapkan bismillah, kami memulai petualangan ini. Teman-teman yang lain sepertinya berpikiran sama denganku. Dilanting yang sebenarnya hanya cukup untuk 5 orang, kami paksa untuk dinaiki 6 orang + 1 anak kecil. Ditambah suasana sungai yang sepi, air sungai yang tenang tanda sungai cukup dalam, hal ini juga terlihat ketika si bapak guide kami menancapkan tongkat kayuhnya ke dasar sungai, terlihat ujung tongkat tinggal beberapa puluh centimeter. Ku perkirakan panjang tongkat itu sekitar 4 meter. Kami saling berpandangan ketika melihat kejadian itu, hiiiy… padahal diantara kami ber 7 hanya 2 orang yang bisa berenang, yaitu bu Mega dan si bapak guide pengayuh lanting.

Indah in action
 Andai kami memakai pelampung satu-persatu, mungkin perasaan takut ini akan sedikit ebrkurang, namun kenyataan berlaku sebaliknya, aku terus saja dicekam ketakutan baik itu ketika melalui air yang berombak karena terdapat banyak batu, maupun ketika air tenang karena tahu airnya dalam.
Menit demi menit kulalui terasa begitu lambat dan hari semakin gelap. Aku masih berzikir dan berdoa didalam hati, sampai si Indah membuat ulah, dan mulailah suasana agak mencair. Kami juga tidak melewatkan kesempatan ini untuk berfoto.

Pura-pura heboh, haha..
Pemandangan memang sangat indah dilihat dari atas lanting, gunung-gunung dan tebing yang tinggi, ladang (tanaman padi di lereng bukit), tanaman-tanaman di pinggir sungai yang menjuntai, serta bulan yang sudah mulai tampak membuat takjub yang memandang.
Azan magrib berkumandang ketika kami masih dilanting, hari benar-benar sudah gelap ketika lanting di dekatkan pada sebuah batang (Susunan kayu/bambu tempat warga setempat mandi di sungai).  Ketika kaki kanan menyentuh tanah, lega lah perasaanku.

Andai saja petualangan itu dilakukan pagi hari plus pakai pelampung, mungkin perasaan kami tidak akan setakut ini dan pasti akan sangat exited. Tapi tak apalah, yang penting sudah tidak penasaran lagi dengan yang namanya belanting di Loksado :D. Dipinggir jalan sudah menunggu teman-teman yang tadi mengantar.

Sampai di kamar kami mengantri mandi. Setelah mandi, di lanjut sholat magrib terus makan malam di kantin. Seteah makan kami ganti pakaian lagi, pakaian yang tadi sinag dipakai belanting karena kami akan mencoba sensasi mandi di kolam air panas. Baru ujung kaki ku masukkan ke air, sensasi panasnya sangat terasa. Aku perkirakan air panas itu bersuhu sekitar 60 derajat. Sangat panas, aku hampir tidak tahan. Namun karena melihat teman-teman berendam seluruh badan, maka aku pun mencobanya, apalagi mereka seperti manas-manasiku karena dari tadi hanya kaki yang berendam.
Aku kan panasan, masa mereka bisa aku tidak? Akhirnya, nyemplung lah aku seluruh badan, haha.. panas panas segerrrrr..

Setengah jam berendam sudah ada yang pusing. Malam juga sudah larut dan kami sudahi acara berendam malam itu. Lagi-lagi kami ber 5 harus mengantri mandi dan seperti biasa akulah yang terakhir karena aku tidak mau bercampur dengan teman-teman yang lain, maklum, masih original.

Selesai ritual mandi dilanjutkan sholat isya dan kemudian tidur dengan posisi berdempet-dempetan karena ranjangnya cuma satu sedangkan jumlah pesertanya ada 6 orang, hahaha.. tapi seru. Perajalan kali ini benar-benar seru karena menjalin keakraban antara teman satu kantor.

Hari masih gelap, sehabis sholat subuh, diluar sudah terdengar suara bising dari tape mobil yang memutar lagu dangdut koplo, haha,, siapa lagi kalo bukan pak Dirman. Dia sengaja membunyikannya nyaring agar kami semua bangun dan keluar untuk senam. Bapak-bapak yang lain ikut kumpul diluar sambil ngopi. Aku dan yang lain lebih pilih berkemas, agar nanti tidak ada yang ketinggalan.
Setelah semua rapi, kami juga keluar untuk jalan-jalan dan berfoto kenang-kenangan di depan. Sebagian juga ada yang mencari-cari sinyal hp agar bisa berkomunikasi dengan keluarga. Maklumlah, ini kan gunung, jadi sinyal hp antara ada dan tiada.

Mampir lagi liat pemandangan yang indah selagi kabut belum hilang
Sekitar jam 7 pagi kami meninggalkan cottage menuju pasar Kandangan untuk sarapan. Usai sarapan perjalanan dilanjut ke Pasar Martapura mencari sedikit oleh-oleh lalu lanjut ke Pelaihari. Sekitar pukul 4 sore aku tiba di rumah.

Alhamdulillah, pejalanan telah usai. Sangat menegangkan, cukup melelahkan dan lumayan seru. Next trip ke Kotabaru lagi. Samber Gelap, I’m coming^^.

Kamis, 05 Februari 2015

Bukit Teletubies Pelaihari

Bukit Teletubies, begitu sekarang orang-orang menyebutnya. Nama sebenarnya dari bukit ini adalah Gunung Rimpi. Gunung ini terletak di Desa Tampang, Kecamatan Pelaihari Kabupaten Tanah Laut. Letaknya yang tepat dipinggir jalan membuat tempat ini semakin cepat terkenal karena kerumunan diatas gunung membuat penasaran orang-orang yang melintas dibawahnya. Akupun baru tahu tentang kehebohan bukit ini sejak pertengan Desember 2014 lalu. Hanya saja tibanya musim hujan dan kesibukan akhir tahun membuatku tidak punya kesempatan untuk kesana diawal kehebohannya, haha.. Baru Jum’at kemarin 23 Januari 2015 aku bisa kesana ditemani oleh kak Tuti.

Hari itu cukup cerah sehingga paginya sudah kami jadwalkan untuk pergi kesana seusai jum’atan. Jarak dari tempat tinggal kami ke Bukit Teletubis hanya 4 km, karena itu, kami hanya menghabiskan waktu 10 menit untuk sampai disana. Suasana dibawah sepi, semoga saja hari itu orang-orang malas pergi kesana. Dan aku sangat berharap semoga tidak bertemu dengan teman-teman yang lain. Malu kan, tinggal disini tapi ikut-ikutan heboh seperti mereka yang tinggal diluar kota.
Penampakan dari bawah. "Naik aja susah gimana bawa helm?"
Setelah memarkir motor dikaki bukit, kami langsung mendaki. Ternyata cukup sulit pemirsa, gunung ini memiliki sudut lebih dari 45 derajat. Tidak adanya semacam tangga, pijakan yang berundak, pegangan atopun tali yang di bentang membuat para pendaki cukup kelelahan dan beresiko jatuh. Aku saja sempat berkeringat tapi tidak terlalu capek sih. Ini masih ¼ nya capek ketika mendaki 272 anak tangga di Batu Caves. Ada pemandangan yang aneh disini, dengan kemiringan yang super curam ini, aku heran kok ada sepeda motor yang bisa sampai diatas?
Tuh motornya,, herman saya...???
Sampai dipertengahan bukit, kami beristirahat dan mengambil beberapa foto. Kebetulan juga dipuncak masih penuh dengan sekawanan adik-adik muda.
Bukit Teletubies Pelaihari


Setelah mereka turun, kami mulai melanjutkan pendakian ke puncak. Pemandangan dipuncak sungguh amazing, pas banget buat bersantai. Sayang, anginnya terlalu kencang dan udaranya dingin. Mungkin ga cocok juga ya buat piknik.
Kak Tuti di puncak nih. Sayang masih terlihat sampah yg dtinggalkan sembarangan.
Ketika rombongan lain mulai naik ke puncak, kami putuskan untuk turun. Turun pun tidak jauh beda dengan ketika naik, harus ekstra hati-hati karena disini tidak ada alat bantu satu pun. Semua bergantung pada diri sendiri untuk menyeimbangkan badan.

Pulang dari Bukit Teletubies, Kak Aulia mengajak kami untuk makan di RM Fadlan yang terletak di PTP. Aku baru pertama kali kesana, namun sudah jatuh cinta dengan tempat itu. Bagaimana tidak, aku sangat merindukan suasana seperti ini. Bisa naik jukung di tempat yang tenang dengan pemandangan yang menyejukkan mata.
Nice view from RM Padlan

RM Padlan PTP Pelaihari
Kak Tuti mengulur tali jukung, tak mau melewatkan kesempatan emas ini, segera saja kuikuti melepas tali diujung yang lain. Kali ini pun tidak ada alat bantu keselamatan. Walo aku ga bisa berenang, tapi Kak Tuti kan bisa, paling tidak jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, Kak Tuti dan orang-orang yang sedang makan bisa langsung menyelematkanku.
Kayuh maaang...

Kak Tuti mengayuh jukung dengan santai. Aku teringat masa-masa kecilku dulu. Aku sering diajak kakek naik jukung mencari ikan, ato naik jukung bersama ibuku di sawah. Benar-benar indah. Sekarang naik jukung diair yang tenang benar-benar sebuah kemewahan buatku.
Enjoy this momment
Hari yang menyenangkan ditutup dengan makan sore di tepi danau yang indah. Puwaaaas banget deh hari ini. “Mendaki gunung lewati lembah” kata Ninja Hatori. Ternyata alam Tanah Laut cukup indah ya J

Kamis, 01 Januari 2015

JJ Denpasar part 4

Jam 5 subuh aku bangun untuk sholat subuh. Ku lihat Sarah dan Tara masih rapi tertutup selimut. Selesai sholat, ku lanjutkan ritual tidurku. Suasana pagi yang mendung dan dingin membuatku betah dalam selimut.

Sekitar jam 8 pagi aku kembali terbangun dan tersadar bahwa aku sedang berada di Bali, lebih-lebih ini adalah hari terakhirku. Aku harus bangun dan pergi jalan-jalan, lagian istirahatku pun sudah cukup.

Aku teringat ketika Mei yang lalu aku bersama tiga orang teman tiba di Bandara Changi pukul 00.25 waktu Singapore dan kami harus menempuh waktu setengah  jam perjalanan menuju hostel. Sampai di hostel pun kami harus berbenah sampai waktu menunjukkan pukul setengah 3 dini hari. Ketika bangun pagi harinya, kami tidak bisa bermalas-malasan. Kami saling mengingatkan bahwa kami sedang berada di Singapore dan rugi besar jika datang jauh-jauh ke Sg hanya untuk tidur.
Itulah awal ceritaku di Singapore, mana ceritamu? J

Menyadari itu, aku segera ke kamar mandi, dandan dan jalan lagi. Kali ini tujuanku masih sama, yaitu Pura Taman Ayun di Menguwi. Bu Nen lah yang mengusulkan untuk pergi kesana. Tadinya aku mau pergi ke Pura Besakih, tapi Bu Nen setengah melarang karena lokasinya yang lumayan jauh.

Males bertanya seperti hari-hari kemarin, ku gunakan GPS seperti saran Bu Nen (lagi). Kurang lebih 1 jam perjalanan, akhirnya sampailah aku di Pura Taman Ayun Menguwi.

Setelah memarkir motor, kuikuti arak-arakan orang berjalan. Beberapa meter dari gerbang aku harus mampir di loket untuk membeli tiket masuk. Nah disinilah aku mulai teringat, sepertinya aku sudah pernah antri seperti ini. Masuk ke dalam aku teringat lagi suasana-suasana lain. Naik ke atas, melihat pohon bambu dan sungai di bawahnya, aku makin yakin bahwa aku memang sudah pernah kesana. Tak apalah, hitung-hitung reunian sama bangunan dan pohon-pohon disini.
Pura Taman Ayun
Kedatanganku 4 tahun yang lalu kesini adalah full untuk jalan-jalan. 3 hari di Lombok dan 2 hari di Bali. Karena malam itu ada masalah pada pesawat yang aku tumpangi, sehingga aku harus merelakan 1 malamku di Surabaya. Di Lombok pun tidak sesuai rencana karena jadwalku terganggu dengan masalah penerbangan tadi.

Tidak ingin repot, di Bali aku hanya menyewa taxi untuk mengantar ke tempat-tempat tujuan wisata. Pak supir membawaku ke Tanah Lot, Bedugul, Joger dan satu tempat lain yang aku tidak tahu namanya. Seingatku, tempat itu berdekatan dengan beberapa kantor. Nah sekarang aku baru tahu bahwa tempat itu bernama Pura Taman Ayun yang terletak di Menguwi.
Foto-foto alone deh :(
Hari itu, sepertinya Mila sedang patah hari dan butuh teman untuk curhat. Dia meneleponku dan menceritakan kisah sedihnya di hari sabtu.
Dari kisah itu, aku menyadari bahwa aku harus bersyukur bisa jalan-jalan, sendirian lagi dan tak perlu repot mengurus orang lain. Tapi tetap saja, seberat apapun mengatur teman, seseram apapun penginapan, sesusah apapun mencari makanan halal, sesedih apapun ingin sholat dan sejauh apapun ketika nyasar, kayaknya tetap lebih tenang jika ada teman walo hanya seorang.
Motor pinjaman, haha..
Disaat-saat seperti ini, aku jadi merindukan teman-temanku yang ribut, bawel, cerewet bertanya dan minta ini itu. Tapi itulah seninya jalan-jalan bareng teman, bisa berbagi duka dan suka bersama.
Hari sudah siang, kuputuskan untuk kembali dan tidur siang saja dikamar. Haha.. inilah kebiasaan yang susah untuk ku buang. Meskipun sedang jalan-jalan, tetap ku sempatkan untuk tidur siang meskipun hari sudah sore :D.

Jam 12 siang aku sudah berada di Jl. Cokroaminoto, seingatku disini ada mesjid yang lumayan besar dan pastinya jika ada mesjid, maka akan ada pula tempat makan halal. Benar saja, sebelum sampai mesjid, aku melihat tulisan “Warung Barokah” dengan lambang halalnya. Kuparkir motorku, mepet persis di pinggir jalan. Menu yang kupilih adalah rawon dan es teh manis. Pas banget dinikmati saat cuaca panas dan gerah seperti ini.
Warung Barokah
Nasi rawon dan es teh pun alhamdulillah habis ku lahap. Perjalanan berlanjut menyisir pinggiran menuju mesjid yang berada hanya beberapa ratus meter dari warung Barokah.

Setelah memarkir motor, telingaku menangkap suara riuh. Ternyata suara itu berasal dari arak-arakan di jalan raya. Ku tanya mbak-mbak yang baru keluar dari mesjid. Si mbak-mbak bilang kalo itu adalah arak-arakn untuk upacara Ngaben. Aku langsung mengambil beberapa gambar sambil terus berjalan mendekat. Sebenarnya pengen banget untuk menyeberang agar dapat menyaksikan dari dekat, tapi pakaianku melarangnya. Akan sangat kontras jika aku mendekati upacara itu. Si ibu yang berdiri disampingku mengatakan bahwa tidak apa-apa jika aku ingin ikut masuk dan menyaksikan langsung. Tapi kembali lagi, aku merasa sangat berbeda dan para Pecalang yang mondar mandir di gerbang kuburan membuatku mengurungkan niat.
Ngaben
Dengan berat hati kumatikan kamera dan balik arah menuju mesjid. Air wudhu yang dingin seketika meluruhkan kepenatanku, rasanya ademmmm..
Akibat keseringan jalan sendalku sampai jebol :D
Usai sholat kuputuskan untuk ke rumah Mas Kresna mengembalikan motor yang sudah 2 hari ini ku sewa. Tapi sebelumnya aku mampir dulu di lapangan puputan hanya untuk sekedar bersantai.

Hari itu jalanan sekitar pusat kota sangat ramai dan macet dipenuhi mereka yang berpakaian adat khas Bali. Kulihat di sebuah rumah, para laki-laki berkumpul membuat sesuatu yang terbuat dari daun kelapa gading berwarna kuning. Entah apalah namanya.

Satu hal yang tidak kusukai dari Denpasar adalah jalannya yang kebanyakan satu arah. Aku benar-benar bingung dan kesal dibuatnya. Seingatku, ada dua kali aku mengelilingi jalan yang sama dikarenakan jalan satu arah ini. Jalan yang seharusnya lurus akan berbelok jika sedang ada ritual sembahyang, ini membuatku pusing untuk mencari jalan untuk kembali ke jalur awal. Andai itu jalan yang lancar, mungkin akan sedikit menghemat waktuku dan tidak perlu berpanas-panas ria serta berdebu.

Dengan susah payah dan masih mengandalkan GPS, tibalah aku di Kantor Pajak Pratama Badung. Rumah Mas Kresna berada persis diseberang kantor ini. Kepada Mas Kresna, ku serahkan motor, kunci, STNK serta sejumlah uang kekurangan sewa.

Aku diantar pulang oleh Pak Jamali, ojek langganan Mas Kresna. Sampai kamar aku bersih-bersih, sholat, lalu tidur. Kedua teman Kanada ku sedang tidak ada. Bangun tidur aku segera mandi. Keluar dari kamar mandi, betapa terkejutnya aku menyaksikan pemandangan dihadapanku.

Jujur, sampai kali ke dua pergi ke Bali, aku tidak pernah berpikir akan pergi ke pantai apalagi hanya untuk menyaksikan bule-bule berjemur dengan pakaian yang sangat minim. Nah kali ini aku sedang berada dikamar, bukan dipantai, tapi pakaian Sarah dan Tara membuatku seperti sedang berada di pantai. Ku lihat Sarah sedang duduk dikursi dengan hanya memakai bikini. Tara pun tidak jauh berbeda, hanya saja dia sedang duduk di bednya dan sedikit tertutup oleh selimut.

Mereka menyapaku ramah. Ku atur ekspresiku senormal mungkin. Ku pikir mereka pasti mengira aku sudah biasa dengan keadaan seperti ini. Kami mengobrol sedikit tentang pengalaman hari itu. Mereka bercerita tadi pergi ke pantai untuk berjemur sampai kulit mereka terbakar dan kemerah-merahan. Aku bercerita tentang Pura Taman Ayun yang siang itu aku kunjungi.  Kubilang juga bahwa aku akan bersiap pergi lagi malam itu dan merekapun pamit untuk makan malam di bawah.

Jumat, 26 Desember 2014

JJ Denpasar part 3

Subuh Jum’at sebagian besar teman sudah berangkat ke bandara. Hanya tinggal beberapa orang dan aku yang sengaja menambah waktu untuk jalan-jalan sendirian. Rencana awal memang aku akan jalan-jalan sendiri, tapi dihari pertama bertemu, Bu Nen janji mengajakku ke tempat kerjanya dan desa adat Penglipuran yang katanya sangat dekat dengan kantornya.

Sayangnya, ternyata itu hanya rencana karena kamis sore Bu Nen mengabariku bahwa dia harus mengisi acara di Polda, yah.., tinggallah aku sendiri berkeliling Denpasar sampai tanpa sengaja aku berkenalan dengan Mas Saiful, orang yang katanya tiap hari kirim sms ke Bu Nen, hahaha.. kok bisa?

Ya iyalah, karena waktu kenalan sama Mas Saiful, aku memberikan nope Bu Nen yang kuakui sebagai nope ku. Maap ya Bu Nen, maa……b pake “b”, hehe…
Btw, apa kabar Mas Saiful sekarang Bu Nen, masih smsan kah?, bikin envy aja L

Bali sudah memasuki musim hujan ketika aku disana. Hari itu pun aku jjl sendiri sambil hujan-hujanan.
Bu Nen mengusulkan aku untuk pergi ke Pura Taman Ayun di Menguwi. Tapi karena hujan dan membuatku harus beberapa kali berteduh sampai aku bosan, akhirnya kuputuskan untuk pulang. Waktu berteduh saat hujan itulah aku berkenalan dengan Mas Saiful, he. Sebenarnya ga kenalan kok, cuma saling menyapa aja sesama orang yang numpang berteduh di pinggiran toko.

Oia, sejak pagi jum’at aku sudah pindah penginapan ke Hostel World yang terletak di Jl. Imam Bonjol yang ternyata sejalur dan dekat dengan Monang Maning serta Legian.
Foto di sekitar daerah toko temanku
Hostel ini sudah kubooking sebelum keberangkatanku ke Bali. Pilihan kujatuhkan ke hostel ini karena rate dan testimoninya bagus. Sejak setahun yang lalu aku memang pengen banget nyoba tidur di hostel yang teman sekamarnya campur-campur. Cuma pengen tau aja sehingga nanti bisa diceritakan kepada teman-teman sebagai bekal jalan-jalan selanjutnya.

Tiba pertama kali di Hostel World, oh no, rasanya nyesek dan pengen nangis. Bule-bule berjejer nongkrong di depan pintu, 2 anjing berkeliaran di lobby dan 2 resepsionis yang berpakaian cukup terbuka menurutku. Kagetnya lagi ketika si mbak-mbak resepsionis bilang bahwa aku mau di mix. Oh tidak, mending aku pindah hotel deh.

Dalam kebingungan aku curhat sama Bu Nen. Bu Nen malah bilang bahwa bagus kalo penginapan isinya bule semua, karena mereka kesini fokusnya hanya untuk liburan dan sekarang Bali aman, jamin Bu Nen. Selain itu, Bu Nen juga ngomong, kalo terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, aku tinggal menelponnya dan dia akan datang menjemputku untuk tidur dirumahnya. Kalimat Bu Nen cukup menenangkan dan membuatku lega.
tempat tidurnya cukup nyaman
Siang itu aku bisa tidur dengan tenang, nyaman dan aman.

Kamarku yang baru
Bangun tidur aku langsung mandi, sholat trus dandan. Jam 5 lewat Bu Nen datang. Sebelum pergi, Bu Nen menyempatkan naik ke atas untuk melihat kamarku yang baru. Benar-benar teman yang care dan bertanggung jawab ya. Seneng bisa bertemu, ditemenin dan dijaga Bu Nen selama disini.
Dikamar seluas ini, aku hanya sendirian
Malam itu kami tidak jalan-jalan ke tempat-tempat wisata kayak kemarin. Karena hujan dan udara dingin, aku ngajakin Bu Nen untuk nonton dan untungnya Bu Nen mau. Aku bener-bener lagi malas dan capek keluyuran, mending duduk santai di bioskop.

Kami memilih film yang tayang pukul 06.30 sore. Jadi ga seberapa lama nunggu kamipun bisa masuk dan bersantai.
Ada yang sudah nonton film ini?
Di posternya sih kelihatan seru banget ni film dan kalo ga paham diawal nonton juga wajar. Tapi film ini lain, walopun sudah lama duduk dan nonton dengan serius, aku ga nemu-nemu juga tuh dimana serunya ni film. Ternyata Bu Nen juga sama, kami hanya tertawa entah menertawakan filmnya yang aneh ato kami yang ga bisa menemukan letak eksotisnya film ini.

Asli, aku ngantuk kalo nonton film beginian. Teman-teman kuliahku sudah ngerti masalah ini, makanya mereka akan pilih film yang universal, tentang petualangan mungkin, film animasi ato film horror sekalian.

Kalo pilih film bertema cinta, mereka yang ngantuk, hahaha..
Jadi ingat kejadian sekitar 3 tahun yang lalu. Aku dan teman-teman mau nonton tapi mereka pada jaim. Btw, ini bukan teman-teman biasa nongkrong ya, kali ini ceritanya beda. Ada yang ingin dipertemukan dan dijodoh-jodohin ceritanya. Nah karena sama-sama jaim, akhirnya aku yang maju untuk pilih film, habisnya pas ditanya, semua jawab terserah. Pas aku pilh film itu, mereka yang ribut dan ketawa-ketawa sambil nonton.

Dilain waktu, karena aku dari golongan minoritas yang suka film romantis, kali itu aku ngalah untuk nonton film action. Alhasil aku yang manyun karena ga ngerti dan malah ngantuk. Karena itulah sekarang beberapa hari sebelum nonton, kami rundingkan dulu film apa. Kami baca sinopsis sama-sama supaya ga ada yang terzolimi, he..

Kembali ke Denpasar Cineplex. Setelah sekian lama, akhirnya selesai juga film yang dengan susah payah aku tunggu tulisan “THE END” nya. Endingnya juga ga jelas.

Kami melanjutkan acara malam itu dengan mencari makanan yang panas-panas. Aku mau makan soto/sop yang berkuah dan hangat. Bu Nen mengajakku ke tempat makan yang semuanya ada. Ternyata aku sudah sering melewati tempat itu dan aku beberapa kali tersesat di jalan itu. Yang ku ingat hanyalah tugu di perempatan jalan bertuliskan Gadjah Mada.

Hujan gerimis malam itu melengkapi perjalanan kami di sepanjang Jalan Imam Bonjol dan tanpa diduga sebelumnya tiba-tiba hujan deras sudah menghadang di depan. Bu Nen menghentikan motornya dan memintaku untuk berteduh di teras sebuah toko tas. Bu Nen mengeluarkan jas hujan, memakainya dan meminta pendapatku untuk melanjutkan perjalanan kalo berbasah-basah ria. Aku sih setuju banget karena biar basah juga, yang dituju kan tempat tinggal, kamar. Jadi setelah bersih-bersih aku bisa langsung tidur, daripada harus berteduh dipinggiran teras sambil nunggu hujan yang tidak jelas kapan redanya. Buang-buang waktu dan tenaga kan?

Dalam keadaan seperti ini, jarak yang dekat terasa lebih jauh. Aku kasian sama Bu Nen, sudah seharian kerja masih harus ngajak aku jalan dan harus menembus hujan deras lagi-lagi untuk mengantarku pulang. Maaf ya Bu Nen jika keberadaanku sangat merepotkanmu.. L.


Tiba dikamar sudah ada 2 penghuni lain disana. Mereka sedang sibuk menulis diary. Kuperkenalkan nama dan asalku. Mereka berdua dari Kanada namanya Sarah dan Tara, datang kesini untuk berlibur. Ini adalah pertama kalinya mereka ke Bali, juga Indonesia. Tak lupa aku meminta ijin pada mereka untuk sholat disitu, dilantai persis disebelah tempat tidur mereka. Untungnya mereka tenang, ga ribut. Selesai sholat, kulihat mereka berdua sudah tertidur dan giliranku juga untuk beristirahat. fan dee na kha :)

Kamis, 18 Desember 2014

JJ Denpasar part 2

Hari ke 3 diklat tidak diisi dengan belajar. Khusus hari ini semua peserta dimanjakan dengan jalan-jalan dan shopping dengan rute Pasar Seni Sukawati, Joger, Krisna, Pura Uluwatu, GWK dan ditutup dengan dinner di Jimbaran.

Di pasar Sukawati aku menemani seorang teman untuk mencari oleh-oleh. Aku sendiri malas jika bepergian harus mikirin oleh-oleh, menuh-menuhin koper, berat plus ribet, dan malu juga kebanyakan tentengan. Hihi..
bersama belanjaan masing-masing :D

1 jam keliling Sukawati, perjalanan lanjut ke Joger, temanya masih sama, belanja :D.

Disini aku beli beberapa potong baju titipan teman sekantor. Nah kalo dititipin, mau ga mau, hukumnya sunat mendekati wajib. Tapi yang nitip juga kira-kira dong ya, yang dititipin aja ga belanja, masa repot-repot nambah bawaan yang ternyata cuma titipan? Belum lagi bingungnya pas nyari ato milih-milih, selera orang kan beda-beda.

Dari Joger kami menyebrang jalan untuk makan siang di Wong Solo, katanya ini restoran teraman karena yang punya dan semua karyawan wajib muslim. Selesai makan kami melaksanakan sholat zuhur dan ashar jamak qasar berjamaah. Alhamdulillah lega, dan perjalanan pun berlanjut menuju Krisna. Bagi yang oleh-olehnya belum lengkap, bisa mencarinya disini.

Dari Krisna, perjalanan kami menuju makin ke selatan, yaitu ke Pura Uluwatu. Sebenarnya aku sudah lumayan capek, tapi karena sudah sampai, tanggung juga jika tidak ikut turun dan menikmati suasana di pura seindah ini. Sebelum masuk, setiap pengunjung lokal maupun internasional wajib mengenakan selendang yang sudah disediakan di pintu masuk. Banyak turis asing juga datang kesini. Kami segera berbaur dan berlomba mengabadikan moment perjalanan kami disini.
Ada Bu  Irma tuh di belakang
Aku, Bu Ramlah dan Bu Raida bergantian saling memoto. Terkadang juga ku gunakan timer agar bisa berfoto bersama. Memang canggih dan membantu banget kameraku ini. Pertama kali kupakai ketika aku pergi ke Bangkok tahun lalu. Banyak sudah hasil jepretaannya yang menjadi koleksi di folder fotoku. Komen positif pun sudah sering kudengar dari mereka yang melihat ato membantu mengambilkan foto. Kecil, mungil, simple namun sangat berguna. Kalo orang Malaysia bilang “comel”, dan sepertinya kamera ini sudah jadi bawaan wajib ke dua ku setelah hp.
Boleh lah ya :)
Di Uluwatu banyak monyet-monyet yang menjadi tontonan bagi turis-turis asing. Mereka bergerombol menyaksikan monyet-monyet yang sedang makan maupun bercengkrama. Aku berkeliling saja mencari pemandangan lain untuk dilihat daripada hanya sekedar melihat monyet, di Pulau Kembang juga banyak kok yang kayak gitu, wkwkwkkk…

Ketika teman-teman mulai berjalan menuju pintu keluar, akupun segera mengikuti. Kami bersiap melanjutkan perjalanan menuju GWK.

GWK yang merupakan kepanjangan dari Garuda Wisnu Kencana adalah sebuah patung besar yang berada di atas gunung kapur, terbuat dari gunung kapur yang dipangkas dan dipahat membentuk patung burung Garuda dan patung Dewa Wisnu yang sedang naik diatasnya.
Ini baru patung Dewa Wisnunya
Area ini sangat luas, patungnya pun berukuran sangat besar. Saat ini patung GWK yang direncanakan belum selesai pengerjaannya. Antara patung Dewa Wisnu dan patung Garuda masih terpisah jauh. Entah bagaimana caranya nanti untuk memindahkan patung Dewa Wisnu yang super besar itu ke atas patung burung Garuda. Yang pasti jika sudah selesai, patung ini akan menjadi patung terbesar didunia dan mengalahkan patung Liberty.
Foto bareng di depan patung Burung Garuda
Sampai disini belum selesai perjalanan kami, masih ada satu tujuan lagi, yaitu Jimbaran. Horeee.. menuju destinasi terakhir.

Waktu menunjukkan pukul 6 kurang ketika bus kami berhenti di sebuah rumah makan. Kami masuk, melewati jejeran meja dan kursi, terus berjalan menuju pinggir pantai yang sudah mulai ramai dengan pengunjung. Kami segera duduk 
di tempat yang sudah disediakan, berfoto-foto sambil memandangi mereka yang bermain air dipinggir pantai dengan background sunset yang indah. Beginilah suasana di Bali kalo magrib tiba, tidak ada yang berubah. Orang-orang tetap cuek main dan jalan-jalan.
Suasana Jimbaran sore hari
Ngikut gaya Bu Irma nih

Usai makan, badan sudah sangat lelah, mata mulai mengantuk. Untunglah ini destinasi terakhir, waktunya untuk pulang dan istirahat.
Udah malem
Sampai hotel, bukannya langsung tidur seperti harapanku, aku malah membuka laptop untuk mengerjakan tugas yang akan dipersentasikan besok, plus nangis-nangis bombay nontonin video dari Bu Nen. Bu Irma aja sampai bingung :D.

+++

Hari terakhir diklat diisi dengan persentasi dan diskusi. Kelompok pertama maju dan mempersentasikan hasil kerja kelompoknya. Jujur aku merasa bingung dengan hasil persentasinya. Kok beda dengan apa yang aku tangkap selama beberapa hari ini? Pas waktunya diskusi, benar saja, ternyata tidak hanya aku seorang yang merasakan itu. Anggota kelompok lain pun sama.

Akhirnya dari pagi sampai siang kami hanya membahas hasil kerja 1 kelompok tanpa ada waktu untuk membahas hasil kerja kelompok lain. Untungnya pak narasumber memberikan no hp dan alamat emailnya agar kami tetap bisa berkonsultasi jika nanti mendapat kesulitan setelah pulang ke Tanah Laut.

Ditengah-tengah diskusi, ibu-ibu sudah membahas jadwal sore dan malam harinya. Sedang aku dan beberapa teman lain memutuskan menyewa motor untuk jalan-jalan ke objek wisata terdekat.

Karena masih ada oleh-oleh yang kurang, sore itu bu Ramlah mengajakku untuk pergi lagi ke Krisna. Malamnya kami jalan ke Legian, liat bu le dan pak le keluyuran. Jujur aku merasa tidak tenang berada disini. Aku merasa salah tempat. Tidak sepatutnya aku berada disini. Ingin sekali segera pulang, namun teman-teman masih betah nongkrong dan berfoto-foto di depan Monumen Bom Bali.
Maksa banget fotonya, hahaha..
Ketika ada teman yang pulang, kamipun ikut pulang. Biar lambat asal selamat, itulah semboyan kami malam itu disaat gerimis menemani perjalanan pulang kami ke hotel.