Pages

Assalamualaikum... Selamat datang di duniaku, enjoy my blog
Tampilkan postingan dengan label Backpacker. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Backpacker. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Januari 2015

JJ Denpasar part 4

Jam 5 subuh aku bangun untuk sholat subuh. Ku lihat Sarah dan Tara masih rapi tertutup selimut. Selesai sholat, ku lanjutkan ritual tidurku. Suasana pagi yang mendung dan dingin membuatku betah dalam selimut.

Sekitar jam 8 pagi aku kembali terbangun dan tersadar bahwa aku sedang berada di Bali, lebih-lebih ini adalah hari terakhirku. Aku harus bangun dan pergi jalan-jalan, lagian istirahatku pun sudah cukup.

Aku teringat ketika Mei yang lalu aku bersama tiga orang teman tiba di Bandara Changi pukul 00.25 waktu Singapore dan kami harus menempuh waktu setengah  jam perjalanan menuju hostel. Sampai di hostel pun kami harus berbenah sampai waktu menunjukkan pukul setengah 3 dini hari. Ketika bangun pagi harinya, kami tidak bisa bermalas-malasan. Kami saling mengingatkan bahwa kami sedang berada di Singapore dan rugi besar jika datang jauh-jauh ke Sg hanya untuk tidur.
Itulah awal ceritaku di Singapore, mana ceritamu? J

Menyadari itu, aku segera ke kamar mandi, dandan dan jalan lagi. Kali ini tujuanku masih sama, yaitu Pura Taman Ayun di Menguwi. Bu Nen lah yang mengusulkan untuk pergi kesana. Tadinya aku mau pergi ke Pura Besakih, tapi Bu Nen setengah melarang karena lokasinya yang lumayan jauh.

Males bertanya seperti hari-hari kemarin, ku gunakan GPS seperti saran Bu Nen (lagi). Kurang lebih 1 jam perjalanan, akhirnya sampailah aku di Pura Taman Ayun Menguwi.

Setelah memarkir motor, kuikuti arak-arakan orang berjalan. Beberapa meter dari gerbang aku harus mampir di loket untuk membeli tiket masuk. Nah disinilah aku mulai teringat, sepertinya aku sudah pernah antri seperti ini. Masuk ke dalam aku teringat lagi suasana-suasana lain. Naik ke atas, melihat pohon bambu dan sungai di bawahnya, aku makin yakin bahwa aku memang sudah pernah kesana. Tak apalah, hitung-hitung reunian sama bangunan dan pohon-pohon disini.
Pura Taman Ayun
Kedatanganku 4 tahun yang lalu kesini adalah full untuk jalan-jalan. 3 hari di Lombok dan 2 hari di Bali. Karena malam itu ada masalah pada pesawat yang aku tumpangi, sehingga aku harus merelakan 1 malamku di Surabaya. Di Lombok pun tidak sesuai rencana karena jadwalku terganggu dengan masalah penerbangan tadi.

Tidak ingin repot, di Bali aku hanya menyewa taxi untuk mengantar ke tempat-tempat tujuan wisata. Pak supir membawaku ke Tanah Lot, Bedugul, Joger dan satu tempat lain yang aku tidak tahu namanya. Seingatku, tempat itu berdekatan dengan beberapa kantor. Nah sekarang aku baru tahu bahwa tempat itu bernama Pura Taman Ayun yang terletak di Menguwi.
Foto-foto alone deh :(
Hari itu, sepertinya Mila sedang patah hari dan butuh teman untuk curhat. Dia meneleponku dan menceritakan kisah sedihnya di hari sabtu.
Dari kisah itu, aku menyadari bahwa aku harus bersyukur bisa jalan-jalan, sendirian lagi dan tak perlu repot mengurus orang lain. Tapi tetap saja, seberat apapun mengatur teman, seseram apapun penginapan, sesusah apapun mencari makanan halal, sesedih apapun ingin sholat dan sejauh apapun ketika nyasar, kayaknya tetap lebih tenang jika ada teman walo hanya seorang.
Motor pinjaman, haha..
Disaat-saat seperti ini, aku jadi merindukan teman-temanku yang ribut, bawel, cerewet bertanya dan minta ini itu. Tapi itulah seninya jalan-jalan bareng teman, bisa berbagi duka dan suka bersama.
Hari sudah siang, kuputuskan untuk kembali dan tidur siang saja dikamar. Haha.. inilah kebiasaan yang susah untuk ku buang. Meskipun sedang jalan-jalan, tetap ku sempatkan untuk tidur siang meskipun hari sudah sore :D.

Jam 12 siang aku sudah berada di Jl. Cokroaminoto, seingatku disini ada mesjid yang lumayan besar dan pastinya jika ada mesjid, maka akan ada pula tempat makan halal. Benar saja, sebelum sampai mesjid, aku melihat tulisan “Warung Barokah” dengan lambang halalnya. Kuparkir motorku, mepet persis di pinggir jalan. Menu yang kupilih adalah rawon dan es teh manis. Pas banget dinikmati saat cuaca panas dan gerah seperti ini.
Warung Barokah
Nasi rawon dan es teh pun alhamdulillah habis ku lahap. Perjalanan berlanjut menyisir pinggiran menuju mesjid yang berada hanya beberapa ratus meter dari warung Barokah.

Setelah memarkir motor, telingaku menangkap suara riuh. Ternyata suara itu berasal dari arak-arakan di jalan raya. Ku tanya mbak-mbak yang baru keluar dari mesjid. Si mbak-mbak bilang kalo itu adalah arak-arakn untuk upacara Ngaben. Aku langsung mengambil beberapa gambar sambil terus berjalan mendekat. Sebenarnya pengen banget untuk menyeberang agar dapat menyaksikan dari dekat, tapi pakaianku melarangnya. Akan sangat kontras jika aku mendekati upacara itu. Si ibu yang berdiri disampingku mengatakan bahwa tidak apa-apa jika aku ingin ikut masuk dan menyaksikan langsung. Tapi kembali lagi, aku merasa sangat berbeda dan para Pecalang yang mondar mandir di gerbang kuburan membuatku mengurungkan niat.
Ngaben
Dengan berat hati kumatikan kamera dan balik arah menuju mesjid. Air wudhu yang dingin seketika meluruhkan kepenatanku, rasanya ademmmm..
Akibat keseringan jalan sendalku sampai jebol :D
Usai sholat kuputuskan untuk ke rumah Mas Kresna mengembalikan motor yang sudah 2 hari ini ku sewa. Tapi sebelumnya aku mampir dulu di lapangan puputan hanya untuk sekedar bersantai.

Hari itu jalanan sekitar pusat kota sangat ramai dan macet dipenuhi mereka yang berpakaian adat khas Bali. Kulihat di sebuah rumah, para laki-laki berkumpul membuat sesuatu yang terbuat dari daun kelapa gading berwarna kuning. Entah apalah namanya.

Satu hal yang tidak kusukai dari Denpasar adalah jalannya yang kebanyakan satu arah. Aku benar-benar bingung dan kesal dibuatnya. Seingatku, ada dua kali aku mengelilingi jalan yang sama dikarenakan jalan satu arah ini. Jalan yang seharusnya lurus akan berbelok jika sedang ada ritual sembahyang, ini membuatku pusing untuk mencari jalan untuk kembali ke jalur awal. Andai itu jalan yang lancar, mungkin akan sedikit menghemat waktuku dan tidak perlu berpanas-panas ria serta berdebu.

Dengan susah payah dan masih mengandalkan GPS, tibalah aku di Kantor Pajak Pratama Badung. Rumah Mas Kresna berada persis diseberang kantor ini. Kepada Mas Kresna, ku serahkan motor, kunci, STNK serta sejumlah uang kekurangan sewa.

Aku diantar pulang oleh Pak Jamali, ojek langganan Mas Kresna. Sampai kamar aku bersih-bersih, sholat, lalu tidur. Kedua teman Kanada ku sedang tidak ada. Bangun tidur aku segera mandi. Keluar dari kamar mandi, betapa terkejutnya aku menyaksikan pemandangan dihadapanku.

Jujur, sampai kali ke dua pergi ke Bali, aku tidak pernah berpikir akan pergi ke pantai apalagi hanya untuk menyaksikan bule-bule berjemur dengan pakaian yang sangat minim. Nah kali ini aku sedang berada dikamar, bukan dipantai, tapi pakaian Sarah dan Tara membuatku seperti sedang berada di pantai. Ku lihat Sarah sedang duduk dikursi dengan hanya memakai bikini. Tara pun tidak jauh berbeda, hanya saja dia sedang duduk di bednya dan sedikit tertutup oleh selimut.

Mereka menyapaku ramah. Ku atur ekspresiku senormal mungkin. Ku pikir mereka pasti mengira aku sudah biasa dengan keadaan seperti ini. Kami mengobrol sedikit tentang pengalaman hari itu. Mereka bercerita tadi pergi ke pantai untuk berjemur sampai kulit mereka terbakar dan kemerah-merahan. Aku bercerita tentang Pura Taman Ayun yang siang itu aku kunjungi.  Kubilang juga bahwa aku akan bersiap pergi lagi malam itu dan merekapun pamit untuk makan malam di bawah.

Jumat, 26 Desember 2014

JJ Denpasar part 3

Subuh Jum’at sebagian besar teman sudah berangkat ke bandara. Hanya tinggal beberapa orang dan aku yang sengaja menambah waktu untuk jalan-jalan sendirian. Rencana awal memang aku akan jalan-jalan sendiri, tapi dihari pertama bertemu, Bu Nen janji mengajakku ke tempat kerjanya dan desa adat Penglipuran yang katanya sangat dekat dengan kantornya.

Sayangnya, ternyata itu hanya rencana karena kamis sore Bu Nen mengabariku bahwa dia harus mengisi acara di Polda, yah.., tinggallah aku sendiri berkeliling Denpasar sampai tanpa sengaja aku berkenalan dengan Mas Saiful, orang yang katanya tiap hari kirim sms ke Bu Nen, hahaha.. kok bisa?

Ya iyalah, karena waktu kenalan sama Mas Saiful, aku memberikan nope Bu Nen yang kuakui sebagai nope ku. Maap ya Bu Nen, maa……b pake “b”, hehe…
Btw, apa kabar Mas Saiful sekarang Bu Nen, masih smsan kah?, bikin envy aja L

Bali sudah memasuki musim hujan ketika aku disana. Hari itu pun aku jjl sendiri sambil hujan-hujanan.
Bu Nen mengusulkan aku untuk pergi ke Pura Taman Ayun di Menguwi. Tapi karena hujan dan membuatku harus beberapa kali berteduh sampai aku bosan, akhirnya kuputuskan untuk pulang. Waktu berteduh saat hujan itulah aku berkenalan dengan Mas Saiful, he. Sebenarnya ga kenalan kok, cuma saling menyapa aja sesama orang yang numpang berteduh di pinggiran toko.

Oia, sejak pagi jum’at aku sudah pindah penginapan ke Hostel World yang terletak di Jl. Imam Bonjol yang ternyata sejalur dan dekat dengan Monang Maning serta Legian.
Foto di sekitar daerah toko temanku
Hostel ini sudah kubooking sebelum keberangkatanku ke Bali. Pilihan kujatuhkan ke hostel ini karena rate dan testimoninya bagus. Sejak setahun yang lalu aku memang pengen banget nyoba tidur di hostel yang teman sekamarnya campur-campur. Cuma pengen tau aja sehingga nanti bisa diceritakan kepada teman-teman sebagai bekal jalan-jalan selanjutnya.

Tiba pertama kali di Hostel World, oh no, rasanya nyesek dan pengen nangis. Bule-bule berjejer nongkrong di depan pintu, 2 anjing berkeliaran di lobby dan 2 resepsionis yang berpakaian cukup terbuka menurutku. Kagetnya lagi ketika si mbak-mbak resepsionis bilang bahwa aku mau di mix. Oh tidak, mending aku pindah hotel deh.

Dalam kebingungan aku curhat sama Bu Nen. Bu Nen malah bilang bahwa bagus kalo penginapan isinya bule semua, karena mereka kesini fokusnya hanya untuk liburan dan sekarang Bali aman, jamin Bu Nen. Selain itu, Bu Nen juga ngomong, kalo terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, aku tinggal menelponnya dan dia akan datang menjemputku untuk tidur dirumahnya. Kalimat Bu Nen cukup menenangkan dan membuatku lega.
tempat tidurnya cukup nyaman
Siang itu aku bisa tidur dengan tenang, nyaman dan aman.

Kamarku yang baru
Bangun tidur aku langsung mandi, sholat trus dandan. Jam 5 lewat Bu Nen datang. Sebelum pergi, Bu Nen menyempatkan naik ke atas untuk melihat kamarku yang baru. Benar-benar teman yang care dan bertanggung jawab ya. Seneng bisa bertemu, ditemenin dan dijaga Bu Nen selama disini.
Dikamar seluas ini, aku hanya sendirian
Malam itu kami tidak jalan-jalan ke tempat-tempat wisata kayak kemarin. Karena hujan dan udara dingin, aku ngajakin Bu Nen untuk nonton dan untungnya Bu Nen mau. Aku bener-bener lagi malas dan capek keluyuran, mending duduk santai di bioskop.

Kami memilih film yang tayang pukul 06.30 sore. Jadi ga seberapa lama nunggu kamipun bisa masuk dan bersantai.
Ada yang sudah nonton film ini?
Di posternya sih kelihatan seru banget ni film dan kalo ga paham diawal nonton juga wajar. Tapi film ini lain, walopun sudah lama duduk dan nonton dengan serius, aku ga nemu-nemu juga tuh dimana serunya ni film. Ternyata Bu Nen juga sama, kami hanya tertawa entah menertawakan filmnya yang aneh ato kami yang ga bisa menemukan letak eksotisnya film ini.

Asli, aku ngantuk kalo nonton film beginian. Teman-teman kuliahku sudah ngerti masalah ini, makanya mereka akan pilih film yang universal, tentang petualangan mungkin, film animasi ato film horror sekalian.

Kalo pilih film bertema cinta, mereka yang ngantuk, hahaha..
Jadi ingat kejadian sekitar 3 tahun yang lalu. Aku dan teman-teman mau nonton tapi mereka pada jaim. Btw, ini bukan teman-teman biasa nongkrong ya, kali ini ceritanya beda. Ada yang ingin dipertemukan dan dijodoh-jodohin ceritanya. Nah karena sama-sama jaim, akhirnya aku yang maju untuk pilih film, habisnya pas ditanya, semua jawab terserah. Pas aku pilh film itu, mereka yang ribut dan ketawa-ketawa sambil nonton.

Dilain waktu, karena aku dari golongan minoritas yang suka film romantis, kali itu aku ngalah untuk nonton film action. Alhasil aku yang manyun karena ga ngerti dan malah ngantuk. Karena itulah sekarang beberapa hari sebelum nonton, kami rundingkan dulu film apa. Kami baca sinopsis sama-sama supaya ga ada yang terzolimi, he..

Kembali ke Denpasar Cineplex. Setelah sekian lama, akhirnya selesai juga film yang dengan susah payah aku tunggu tulisan “THE END” nya. Endingnya juga ga jelas.

Kami melanjutkan acara malam itu dengan mencari makanan yang panas-panas. Aku mau makan soto/sop yang berkuah dan hangat. Bu Nen mengajakku ke tempat makan yang semuanya ada. Ternyata aku sudah sering melewati tempat itu dan aku beberapa kali tersesat di jalan itu. Yang ku ingat hanyalah tugu di perempatan jalan bertuliskan Gadjah Mada.

Hujan gerimis malam itu melengkapi perjalanan kami di sepanjang Jalan Imam Bonjol dan tanpa diduga sebelumnya tiba-tiba hujan deras sudah menghadang di depan. Bu Nen menghentikan motornya dan memintaku untuk berteduh di teras sebuah toko tas. Bu Nen mengeluarkan jas hujan, memakainya dan meminta pendapatku untuk melanjutkan perjalanan kalo berbasah-basah ria. Aku sih setuju banget karena biar basah juga, yang dituju kan tempat tinggal, kamar. Jadi setelah bersih-bersih aku bisa langsung tidur, daripada harus berteduh dipinggiran teras sambil nunggu hujan yang tidak jelas kapan redanya. Buang-buang waktu dan tenaga kan?

Dalam keadaan seperti ini, jarak yang dekat terasa lebih jauh. Aku kasian sama Bu Nen, sudah seharian kerja masih harus ngajak aku jalan dan harus menembus hujan deras lagi-lagi untuk mengantarku pulang. Maaf ya Bu Nen jika keberadaanku sangat merepotkanmu.. L.


Tiba dikamar sudah ada 2 penghuni lain disana. Mereka sedang sibuk menulis diary. Kuperkenalkan nama dan asalku. Mereka berdua dari Kanada namanya Sarah dan Tara, datang kesini untuk berlibur. Ini adalah pertama kalinya mereka ke Bali, juga Indonesia. Tak lupa aku meminta ijin pada mereka untuk sholat disitu, dilantai persis disebelah tempat tidur mereka. Untungnya mereka tenang, ga ribut. Selesai sholat, kulihat mereka berdua sudah tertidur dan giliranku juga untuk beristirahat. fan dee na kha :)

Kamis, 18 Desember 2014

JJ Denpasar part 2

Hari ke 3 diklat tidak diisi dengan belajar. Khusus hari ini semua peserta dimanjakan dengan jalan-jalan dan shopping dengan rute Pasar Seni Sukawati, Joger, Krisna, Pura Uluwatu, GWK dan ditutup dengan dinner di Jimbaran.

Di pasar Sukawati aku menemani seorang teman untuk mencari oleh-oleh. Aku sendiri malas jika bepergian harus mikirin oleh-oleh, menuh-menuhin koper, berat plus ribet, dan malu juga kebanyakan tentengan. Hihi..
bersama belanjaan masing-masing :D

1 jam keliling Sukawati, perjalanan lanjut ke Joger, temanya masih sama, belanja :D.

Disini aku beli beberapa potong baju titipan teman sekantor. Nah kalo dititipin, mau ga mau, hukumnya sunat mendekati wajib. Tapi yang nitip juga kira-kira dong ya, yang dititipin aja ga belanja, masa repot-repot nambah bawaan yang ternyata cuma titipan? Belum lagi bingungnya pas nyari ato milih-milih, selera orang kan beda-beda.

Dari Joger kami menyebrang jalan untuk makan siang di Wong Solo, katanya ini restoran teraman karena yang punya dan semua karyawan wajib muslim. Selesai makan kami melaksanakan sholat zuhur dan ashar jamak qasar berjamaah. Alhamdulillah lega, dan perjalanan pun berlanjut menuju Krisna. Bagi yang oleh-olehnya belum lengkap, bisa mencarinya disini.

Dari Krisna, perjalanan kami menuju makin ke selatan, yaitu ke Pura Uluwatu. Sebenarnya aku sudah lumayan capek, tapi karena sudah sampai, tanggung juga jika tidak ikut turun dan menikmati suasana di pura seindah ini. Sebelum masuk, setiap pengunjung lokal maupun internasional wajib mengenakan selendang yang sudah disediakan di pintu masuk. Banyak turis asing juga datang kesini. Kami segera berbaur dan berlomba mengabadikan moment perjalanan kami disini.
Ada Bu  Irma tuh di belakang
Aku, Bu Ramlah dan Bu Raida bergantian saling memoto. Terkadang juga ku gunakan timer agar bisa berfoto bersama. Memang canggih dan membantu banget kameraku ini. Pertama kali kupakai ketika aku pergi ke Bangkok tahun lalu. Banyak sudah hasil jepretaannya yang menjadi koleksi di folder fotoku. Komen positif pun sudah sering kudengar dari mereka yang melihat ato membantu mengambilkan foto. Kecil, mungil, simple namun sangat berguna. Kalo orang Malaysia bilang “comel”, dan sepertinya kamera ini sudah jadi bawaan wajib ke dua ku setelah hp.
Boleh lah ya :)
Di Uluwatu banyak monyet-monyet yang menjadi tontonan bagi turis-turis asing. Mereka bergerombol menyaksikan monyet-monyet yang sedang makan maupun bercengkrama. Aku berkeliling saja mencari pemandangan lain untuk dilihat daripada hanya sekedar melihat monyet, di Pulau Kembang juga banyak kok yang kayak gitu, wkwkwkkk…

Ketika teman-teman mulai berjalan menuju pintu keluar, akupun segera mengikuti. Kami bersiap melanjutkan perjalanan menuju GWK.

GWK yang merupakan kepanjangan dari Garuda Wisnu Kencana adalah sebuah patung besar yang berada di atas gunung kapur, terbuat dari gunung kapur yang dipangkas dan dipahat membentuk patung burung Garuda dan patung Dewa Wisnu yang sedang naik diatasnya.
Ini baru patung Dewa Wisnunya
Area ini sangat luas, patungnya pun berukuran sangat besar. Saat ini patung GWK yang direncanakan belum selesai pengerjaannya. Antara patung Dewa Wisnu dan patung Garuda masih terpisah jauh. Entah bagaimana caranya nanti untuk memindahkan patung Dewa Wisnu yang super besar itu ke atas patung burung Garuda. Yang pasti jika sudah selesai, patung ini akan menjadi patung terbesar didunia dan mengalahkan patung Liberty.
Foto bareng di depan patung Burung Garuda
Sampai disini belum selesai perjalanan kami, masih ada satu tujuan lagi, yaitu Jimbaran. Horeee.. menuju destinasi terakhir.

Waktu menunjukkan pukul 6 kurang ketika bus kami berhenti di sebuah rumah makan. Kami masuk, melewati jejeran meja dan kursi, terus berjalan menuju pinggir pantai yang sudah mulai ramai dengan pengunjung. Kami segera duduk 
di tempat yang sudah disediakan, berfoto-foto sambil memandangi mereka yang bermain air dipinggir pantai dengan background sunset yang indah. Beginilah suasana di Bali kalo magrib tiba, tidak ada yang berubah. Orang-orang tetap cuek main dan jalan-jalan.
Suasana Jimbaran sore hari
Ngikut gaya Bu Irma nih

Usai makan, badan sudah sangat lelah, mata mulai mengantuk. Untunglah ini destinasi terakhir, waktunya untuk pulang dan istirahat.
Udah malem
Sampai hotel, bukannya langsung tidur seperti harapanku, aku malah membuka laptop untuk mengerjakan tugas yang akan dipersentasikan besok, plus nangis-nangis bombay nontonin video dari Bu Nen. Bu Irma aja sampai bingung :D.

+++

Hari terakhir diklat diisi dengan persentasi dan diskusi. Kelompok pertama maju dan mempersentasikan hasil kerja kelompoknya. Jujur aku merasa bingung dengan hasil persentasinya. Kok beda dengan apa yang aku tangkap selama beberapa hari ini? Pas waktunya diskusi, benar saja, ternyata tidak hanya aku seorang yang merasakan itu. Anggota kelompok lain pun sama.

Akhirnya dari pagi sampai siang kami hanya membahas hasil kerja 1 kelompok tanpa ada waktu untuk membahas hasil kerja kelompok lain. Untungnya pak narasumber memberikan no hp dan alamat emailnya agar kami tetap bisa berkonsultasi jika nanti mendapat kesulitan setelah pulang ke Tanah Laut.

Ditengah-tengah diskusi, ibu-ibu sudah membahas jadwal sore dan malam harinya. Sedang aku dan beberapa teman lain memutuskan menyewa motor untuk jalan-jalan ke objek wisata terdekat.

Karena masih ada oleh-oleh yang kurang, sore itu bu Ramlah mengajakku untuk pergi lagi ke Krisna. Malamnya kami jalan ke Legian, liat bu le dan pak le keluyuran. Jujur aku merasa tidak tenang berada disini. Aku merasa salah tempat. Tidak sepatutnya aku berada disini. Ingin sekali segera pulang, namun teman-teman masih betah nongkrong dan berfoto-foto di depan Monumen Bom Bali.
Maksa banget fotonya, hahaha..
Ketika ada teman yang pulang, kamipun ikut pulang. Biar lambat asal selamat, itulah semboyan kami malam itu disaat gerimis menemani perjalanan pulang kami ke hotel.

Kamis, 04 Desember 2014

JJ Denpasar Part 1

Langit mendung diatas kota Denpasar mewarnai kepulanganku ke Banjarmasin. Seperti biasa, aku menjadi sedih jika harus mengakhiri jalan-jalanku.

Denpasar, ini kedua kalinya aku datang ke kota ini. Jika dulu khusus jalan-jalan saja sendiri, kali ini aku ditugaskan untuk mengikuti diklat yang bertempat di Badan Diklat Propinsi Bali.
Sejak aku punya seorang teman yang cukup akrab di Bali, aku jadi tertarik untuk datang lagi ke sini. Tapi tidak jika aku diminta pergi untuk semua yang menyangkut pekerjaan, aku hanya ingin refreshing dan have fun in Bali. Karena itu, disini aku akan lebih banyak bercerita tentang jalan-jalanku ketimbang bercerita tentang diklat.

Awal Oktober aku sudah beberapa kali merencanakan liburan di Bali. Tapi selalu saja gagal dengan bermacam-macam alasan, sampai aku pasrah. Tapi yang namanya rejeki,  ternyata ada saja jalan untuk ku pergi ke kota ini, kota yang meninggalkan begitu banyak kenangan, baik suka maupun duka. Sedih rasanya harus pulang, tapi kenyataannya ini bukan tempat tinggalku, aku harus kembali ke kota asalku, Banjarmasin. Banyak yang menantiku disana, terutama pekerjaanku yang pasti sudah menggunung tinggi. Hehe..
+++
Aku berangkat sendiri, menumpang dengan teman yang juga mau terbang ke Bandung pagi itu.
Jujur, sampai hari ini trauma naik pesawat itu masih ada. Mendengar ada gangguan operasional, aku jadi sangat tegang karena pesawat itu yang akan kunaiki.
Ingin rasanya aku batalkan perjalanan ini, pulang dan bekerja dikantor seperti hari-hari biasa. Tapi pasti sudah sangat terlambat, karena tiket pesawat pp sudah ku kantongi, voucher hotel sudah ku pegang bahkan sewa motor pun sudah ku dealkan. Aku pasrah.. apapun yang terjadi, aku sudah terlanjur menyanggupi. Ini adalah tugas dan pekerjaanku. Bismillah..

Pesawat take off pukul 11.30 wita dari bandara Syamsudinnoor Banjarmasin. Gangguan operasional menyebabkan delay sampai 2,5 jam dari jadwal semula pukul 09.00 wita. Benar saja, penerbangan kali ini agak menyeramkan. Aku merasa pesawat tidak stabil, bergemuruh dan bergoyang. Entahlah, semoga ini hanya ada dipikiranku saja. Tapi ketegangan ini sudah sukses membuatku meneteskan air mata. :(

1 jam transit di Surabaya, perjalanan berlanjut ke Denpasar. Kali ini aku sudah bergabung dengan teman-teman rombongan diklat yang lain karena pesawat yang harusnya membawaku ke Denpasar sudah terbang duluan meninggalkanku. Banyaknya jumlah orang yang kukenal, membuatku sedikit lega.
Alhamdulillah, landing dengan selamat di Dps
Kami landing di Bandara Ngurah Rai Denpasar sekitar pukul setengah 3 sore. Waktu di Denpasar sama dengan waktu di Banjarmasin, sehingga aku tidak susah menyesuaikan waktu. Rombongan kami dijemput bus hotel yang membawa kami menuju tempat tinggal selama 6 hari di kota ini.

Malam pertama di Denpasar ku habiskan dengan tidur, bahkan makan malam pun sampai kulewatkan.
+++
Diklat hari pertama, jam 7 pagi kami sudah berpakaian rapi saat sarapan. Selesai sarapan lanjut ke Bandiklat Prop Bali yang berjarak kurang lebih 500 meter dari hotel. Pembukaan diklat dilaksanakan pukul 10.30 dilanjutkan dengan coffee break dan belajar. Aku paling tidak suka belajar dengan hanya duduk dan menyimak teori, bikin ngantuk. Aku lebih antusias jika belajar dengan metode praktek.

Disaat sedang boring, tiba-tiba masuk pesan dari Bu Nena, temanku yang tinggal di Denpasar (yang rumahnya didekat toko temanku :D). Katanya dia sedang berada disekitar tempatku diklat. Langsung saja kuminta dia mampir. Janjinya sih rabu baru datang, tapi ga apa kan kalo bisa ketemu lebih cepat? Kebetulan aku juga ga sreg sama acara ibu-ibu untuk shopping.

Sebelum ketemu aku mikirnya macam-macam. Gimana ya aslinya Bu Nen, apa sebaik dan seramah ketika kita ngobrol di dumay? Apa dia akan senang bertemu denganku ato sebaliknya?

Pas aku mandi, teman sekamarku mengetuk pintu kamar mandi, memberitahukan bahwa temanku sudah datang. Selesai mandi, dengan harap-harap cemas segera ku temui Bu Nen.

Diluar aku melihat seorang cewek masih berpakaian seragam hansip plus jaket sedang duduk mengutak atik hpnya. “Bu Nen” sapaku.
"Hai" katanya sambil melambaikan tangan. Dia hanya menoleh sebentar ke arahku.
“Aku mau sholat dulu ya” lanjutku.
“Iya lanjutin aja” jawabnya singkat. Segitu aja? Hmm..

Selesai sholat, aku bersiap secepat mungkin, kasian ditunggu orang diluar, mana masih pake seragam lagi, xixixii..

Sekarang aku sudah berdiri tepat dihadapan Bu Nen. Bu Nen aslinya tinggi, lebih tinggi dari Dwi. Kalo Dwi mengibaratkan dirinya seperti tiang listrik, trus Bu Nen apa dong? (haha,, becanda. Bu Nen proporsional kok, akunya aja yang kurang tinggi :D)

Kami sedang berjalan menuju parkiran ketika tiba-tiba Bu Nen nyeletuk “Refma ya?” tanyanya bercanda.
“Bu Nen ya?” balasku. Kami spontan tertawa bareng..
Iya, akupun masih setengah ga percaya kalo yang sedang berjalan disampingku adalah Bu Nen orang yang selama ini hanya kukenal lewat dunia maya.

Sore itu Bu Nen mengajakku ke Monumen Braja Sandi sebuah monumen perjuangan rakyat Bali yang terletak tidak jauh dari hotel tempatku menginap.
Kami masuk dan berkeliling sebentar didalam sambil ngobrol. Bu Nen di dumay ga jauh beda dengan Bu Nen aslinya,  selalu seru buat jadi teman ngobrol.
Bu Nen baru tau nih caraku ngambil foto

Katanya pinter moto, kok masih kabur sih?
Lelah berkeliling, Bu Nen mengajakku untuk minum di Veranda Café. Disitu Bu Nen lah yang lebih banyak bercerita. Tentang keluarganya, pekerjaannya, orang-orang disekelilingnya, sampai pada kisah pribadinya. Sungguh, andai aku yang berada di posisinya, belum tentu aku bisa kuat dan bertahan.

Masalah pribadi yang tak kunjung datang solusinya saja sudah membuatku nyaris putus asa, apalagi jika harus ditambah dengan masalah agama dan sosial yang di kotaku tak pernah ada, bahkan terpikir pun tidak. Aku salut denganmu Bu Nen, 2 jempol tangan + 2 jempol kaki untukmu, Ups... Hahaha..

Aku juga sangat salut buat keteguhan imannya. Ditempat seekstrim ini, Bu Nen bisa bertahan dan tetap sukses menjalin hubungan baik dengan mereka yang meragukannya. Aku saja yang dididik sedemikian rupa sejak kecil, segini-gini aja imanku. Masih sering turun naik dan pasang surut bak air laut. Sekali lagi, salut banget buat Bu Nen yang mampu berjuang sendiri.

Tak terasa hari sudah magrib, Bu Nen mengantarku kembali ke hotel dan dia janji akan datang lagi besok jika aku ada waktu luang.
+++
Diklat hari ke 2, kami masih belajar teori, untungnya pelajaran diakhiri lebih awal sekitar pukul 3 sore. Yang jadi masalah adalah aku dipercaya untuk mengkoordinir uang patungan untuk jalan-jalan besok harinya. Inilah yang membuatku tidak bisa pulang lebih cepat. Namun dengan alasan sudah kebelet, akhirnya aku bisa menitipkan uang pada teman dan pulang ke kamar untuk mandi dan sholat. Aku ga enak sama Bu Nen jika hari inipun dia harus menunggu lama seperti kemarin.

Bu Nen datang dengan membawa serta bolu kukus dan pie susu, kue jajanan khas Bali. Sore itu dia mengajakku ke Pantai Sindhu.
Kami berjalan menyusuri pinggiran toko. Bau dupa dimana-mana, mungkin ini yang membawaku pada kenangan ketika sedang berada di Bangkok. Bau-baunya mirip banget.
Foto diambil masih dengan teknik yang sama :D
Setelah cukup jauh berjalan, kami putuskan untuk duduk-duduk di bahu jalan dengan batas batu karang yang berada tepat di bibir pantai. Sambil menikmati pemandangan pulau seberang serta kapal-kapal yang berseliweran diselingi ombak berkejaran, kembali Bu Nen bercerita tentang masa-masa sekolah dan kuliahnya. Kami juga membahas awal mula kami semua berkenalan. Tidak lain dan tidak bukan adalah karena all about TJ. Apaan tu TJ? Semacam kue ato minuman kah? Haha.. tidak sembarang orang tau TJ, tapi kalo kamu sudah tau, cukup simpan dalam hati aja sebagai souvenir.
Cantik banget si ibu :D
Anehnya, semenjak kami semua gabung dan membuat grup, kami menjadi sangat akrab dan dekat, bahkan lebih dekat daripada teman sekantor yang setiap hari bertemu denganku. Semoga pertemanan kita ini bisa langgeng ya sob.. :)

Kamis, 30 Oktober 2014

Backpacker ke Singapore dan Kuala Lumpur hari ke 4

Senin,  12 Mei 2014
"Melaka, I'm coming"

Hari ini kami bangun benar-benar pagi karena tidak ingin melewatkan kesempatan sebagai salah satu dari 60 orang yang akan naik ke Menara Petronas. Dari buku yang aku baca, setiap hari hanya ada 60 orang yang beruntung untuk naik ke Petronas secara gratis. Jadi mumpung sedang berada di KL, kesempatan yang satu ini tidak boleh dilewatkan.

Pukul 7.30 kami sudah keluar dari hotel menuju KLCC. Setiba di Suria KLCC kami berputar-putar mencari tempat masuk untuk naik ke atas. Ternyata tempatnya tidak jauh, dari pintu masuk utama langsung ambil kekiri, dari sana tinggal ikuti saja petunjuk yang ada.
Sudah banyak juga turis yang mengantri
Kami ikut ambil bagian untuk mengantri, sudah lumayan banyak turis-turis yang mengantri. Ketika melihat disekeliling, mataku tertuju pada tulisan didinding, yaitu daftar harga tiket. Segera ku tanyakan pada petugas yang ada disana, ternyata benar, sejak 2012 dikenakan biaya untuk naik ke atas. Kalo aku tidak salah ingat, untuk harga tiket dewasa dikenakan 80 MYR, cukup mahal kan? Lebih mahal dari harga tiket bus untuk kembali ke Singapura sehingga kami putuskan untuk tidak jadi naik.

Untuk mengisi waktu yang masih ada, aku ajak teman-teman menuju taman belakang Suria KLCC.

Wow ternyata taman belakang ini cukup luas juga. Ada jogging track, kolam air mancur hias, beberapa kursi dan jembatan kecil. Kami yang mau save tenaga, tidak terlalu tertarik untuk mengelilinginya sehingga kami hanya bersantai dipinggiran kolam.

Action ka Tuti..

kok pada ketawa sih..
Ini baru sukses
Pukul 09.30 kami lanjut ke TBS. Sampai di TBS pas banget bus yang akan membawa kami ke Melaka berada diantrian berikutnya. Sedikit saja kami terlambat, terpaksa harus membeli tiket untuk keberangkatan selanjutnya yang entah masih ada atau tidak, mengingat kami juga kemarin malam kehabisan tiket kereta menuju Singapur untuk keberangkatan hari itu.

Busnya sangat nyaman, aku suka. Lucunya aku dan kak Aulia sempat menjemur beberapa potong pakaian yang masih basah yang kuletakkan dipangkuanku.
Enjoy this journey

Cepet kering yaa..
Perjalanan dari TBS ke Melaka melalui jalanan yang dihiasi pohon dikanan kiri. Sayangnya aku tidak terlalu memperhatikan keluar saat di dalam bus. Perjalanan yang memakan waktu hampir 3 jam itu kami habiskan untuk tidur, mengingat kami memang kurang tidur beberapa hari ini.

Setiba di Melaka Sentral kami menuju tempat penjualan tiket ke Singapore. Saat itu waktu menunjukkan pukul 12an siang, dan keberangkatan bus ke Singapore pada pukul 3 siang. Kami segera menitip tas lalu lanjut mencari bus Panorama menuju Stadtyus. Tempat ini mirip dengan Putrajaya Sentral, bus-bus bersusun di koridornya yang sudah tertulis nomor dan tujuan. Tidak susah mencari bus ke Stadtyus karena dari jauh sudah akan terlihat antrian panjang untuk menaiki bus, berbeda dengan bus lain yang didepannya cukup lengang.

Jalan-jalan di Melaka cukup padat dihiasi dengan rumah-rumah dan gedung-gedung bergaya kuno. Disini juga terlihat banyak hotel dan penginapan. Mengingat waktu yang kami punya hanya setengah jam disini, setiba di Stadtyus kami menyebar untuk berkeliling masing-masing. Bagiku, tempat ini sangat menarik dan enak untuk dinikmati. Mungkin perlu waktu satu atau dua hari baru akan puas berada disini. Aku bertekad bahwa suatu hari nanti aku akan kembali dan bermalam disini.
Here is Stadtyus

Kayak di Belanda yah
Peace..
Tia in action
Setelah setengah jam berkeliling, kami kembali ke tempat awal kami turun untuk menunggu bus yang akan membawa kami kembali ke Melaka Sentral.
Santai menunggu bis pulang ke Melaka Central
Setiba di Melaka Sentral, Kami berpencar lagi, Kak Tuti dan Mutia sholat sedang aku dan Kak Aulia pergi membeli tiket ke Singapur, Alhamdulillah tiket yang tersisa untuk keberangkatan ke Singapur pukul 3 masih cukup untuk kami berempat. Waktu yang sempit menyebabkan aku tidak sempat untuk sholat di sana. Pukul 3 teng bus pun berangkat. Pada perjalanan kali ini aku mendapatkan pengalaman yang sangat berharga. Karena aku tidak sempat untuk sholat di Melaka Sentral tadi, aku terpaksa sholat di dalam bis. Sebelumnya aku tidak pernah melakukan hal seperti ini, untungnya aku selalu membawa panduan sholat lengkap jika bepergian dan kak Tuti juga memberikan beberapa penjelasan mengenai itu.

Ketika aku mulai mengangkat takbir, aku merasakan haru yang luar biasa. Aku berusaha keras menahan tangis namun rasa itu semakin menjadi, dan air mata itu pun mengalir tak terbendung. Sore itu aku mendapat pelajaran yang sangat berarti yaitu bahwa aku jangan menyianyiakan waktu yang aku miliki untuk beribadah tanpa ada gangguan.

Sekitar pukul 7 malam kami tiba di Golden Mile Complex Singapore. Malam itu rencananya kami akan pergi ke Garden By The Bay, tapi sebelumnya kami sholat dan makan dulu. Secara kebetulan kami menemukan Masjid Sultan yang berada di Arab St. Sebelum berangkat, mesjid ini sangat direkomendasikan oleh teman yang berada di Singapore. Benar saja ketika selesai sholat kami bertemu beberapa teman dari Indonesia dan menanyakan beberapa hal mengenai hostel murah dan tempat makan halal di sini.

Setelah makanj di restoran padang yang ada di dekat masjid, kami lanjut ke MRT Nicoll Highway menuju GBTB. Kalo kamu ke Singapore, yang satu ini jangan sampai terlewat, menikmati indahnya Supertrees dengan kerlip lampu warna warninya.
Kayak di film-film yah..

Penampakan Singapore flyer saat malam

Bagus kan?

Ini baru namanya "ngegembel", hahaha..
Pukul 11 malam kami kembali ke Arab St. untuk istirahat dipenginapan kami yang berdekatan dengan Masjid Sultan.

Rincian biaya hari ke 4 :


Rincian biaya h4 di Malaysian dan Singapore