Pages

Assalamualaikum... Selamat datang di duniaku, enjoy my blog
Tampilkan postingan dengan label MY EXPERIENCE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MY EXPERIENCE. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Desember 2014

JJ Denpasar part 3

Subuh Jum’at sebagian besar teman sudah berangkat ke bandara. Hanya tinggal beberapa orang dan aku yang sengaja menambah waktu untuk jalan-jalan sendirian. Rencana awal memang aku akan jalan-jalan sendiri, tapi dihari pertama bertemu, Bu Nen janji mengajakku ke tempat kerjanya dan desa adat Penglipuran yang katanya sangat dekat dengan kantornya.

Sayangnya, ternyata itu hanya rencana karena kamis sore Bu Nen mengabariku bahwa dia harus mengisi acara di Polda, yah.., tinggallah aku sendiri berkeliling Denpasar sampai tanpa sengaja aku berkenalan dengan Mas Saiful, orang yang katanya tiap hari kirim sms ke Bu Nen, hahaha.. kok bisa?

Ya iyalah, karena waktu kenalan sama Mas Saiful, aku memberikan nope Bu Nen yang kuakui sebagai nope ku. Maap ya Bu Nen, maa……b pake “b”, hehe…
Btw, apa kabar Mas Saiful sekarang Bu Nen, masih smsan kah?, bikin envy aja L

Bali sudah memasuki musim hujan ketika aku disana. Hari itu pun aku jjl sendiri sambil hujan-hujanan.
Bu Nen mengusulkan aku untuk pergi ke Pura Taman Ayun di Menguwi. Tapi karena hujan dan membuatku harus beberapa kali berteduh sampai aku bosan, akhirnya kuputuskan untuk pulang. Waktu berteduh saat hujan itulah aku berkenalan dengan Mas Saiful, he. Sebenarnya ga kenalan kok, cuma saling menyapa aja sesama orang yang numpang berteduh di pinggiran toko.

Oia, sejak pagi jum’at aku sudah pindah penginapan ke Hostel World yang terletak di Jl. Imam Bonjol yang ternyata sejalur dan dekat dengan Monang Maning serta Legian.
Foto di sekitar daerah toko temanku
Hostel ini sudah kubooking sebelum keberangkatanku ke Bali. Pilihan kujatuhkan ke hostel ini karena rate dan testimoninya bagus. Sejak setahun yang lalu aku memang pengen banget nyoba tidur di hostel yang teman sekamarnya campur-campur. Cuma pengen tau aja sehingga nanti bisa diceritakan kepada teman-teman sebagai bekal jalan-jalan selanjutnya.

Tiba pertama kali di Hostel World, oh no, rasanya nyesek dan pengen nangis. Bule-bule berjejer nongkrong di depan pintu, 2 anjing berkeliaran di lobby dan 2 resepsionis yang berpakaian cukup terbuka menurutku. Kagetnya lagi ketika si mbak-mbak resepsionis bilang bahwa aku mau di mix. Oh tidak, mending aku pindah hotel deh.

Dalam kebingungan aku curhat sama Bu Nen. Bu Nen malah bilang bahwa bagus kalo penginapan isinya bule semua, karena mereka kesini fokusnya hanya untuk liburan dan sekarang Bali aman, jamin Bu Nen. Selain itu, Bu Nen juga ngomong, kalo terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, aku tinggal menelponnya dan dia akan datang menjemputku untuk tidur dirumahnya. Kalimat Bu Nen cukup menenangkan dan membuatku lega.
tempat tidurnya cukup nyaman
Siang itu aku bisa tidur dengan tenang, nyaman dan aman.

Kamarku yang baru
Bangun tidur aku langsung mandi, sholat trus dandan. Jam 5 lewat Bu Nen datang. Sebelum pergi, Bu Nen menyempatkan naik ke atas untuk melihat kamarku yang baru. Benar-benar teman yang care dan bertanggung jawab ya. Seneng bisa bertemu, ditemenin dan dijaga Bu Nen selama disini.
Dikamar seluas ini, aku hanya sendirian
Malam itu kami tidak jalan-jalan ke tempat-tempat wisata kayak kemarin. Karena hujan dan udara dingin, aku ngajakin Bu Nen untuk nonton dan untungnya Bu Nen mau. Aku bener-bener lagi malas dan capek keluyuran, mending duduk santai di bioskop.

Kami memilih film yang tayang pukul 06.30 sore. Jadi ga seberapa lama nunggu kamipun bisa masuk dan bersantai.
Ada yang sudah nonton film ini?
Di posternya sih kelihatan seru banget ni film dan kalo ga paham diawal nonton juga wajar. Tapi film ini lain, walopun sudah lama duduk dan nonton dengan serius, aku ga nemu-nemu juga tuh dimana serunya ni film. Ternyata Bu Nen juga sama, kami hanya tertawa entah menertawakan filmnya yang aneh ato kami yang ga bisa menemukan letak eksotisnya film ini.

Asli, aku ngantuk kalo nonton film beginian. Teman-teman kuliahku sudah ngerti masalah ini, makanya mereka akan pilih film yang universal, tentang petualangan mungkin, film animasi ato film horror sekalian.

Kalo pilih film bertema cinta, mereka yang ngantuk, hahaha..
Jadi ingat kejadian sekitar 3 tahun yang lalu. Aku dan teman-teman mau nonton tapi mereka pada jaim. Btw, ini bukan teman-teman biasa nongkrong ya, kali ini ceritanya beda. Ada yang ingin dipertemukan dan dijodoh-jodohin ceritanya. Nah karena sama-sama jaim, akhirnya aku yang maju untuk pilih film, habisnya pas ditanya, semua jawab terserah. Pas aku pilh film itu, mereka yang ribut dan ketawa-ketawa sambil nonton.

Dilain waktu, karena aku dari golongan minoritas yang suka film romantis, kali itu aku ngalah untuk nonton film action. Alhasil aku yang manyun karena ga ngerti dan malah ngantuk. Karena itulah sekarang beberapa hari sebelum nonton, kami rundingkan dulu film apa. Kami baca sinopsis sama-sama supaya ga ada yang terzolimi, he..

Kembali ke Denpasar Cineplex. Setelah sekian lama, akhirnya selesai juga film yang dengan susah payah aku tunggu tulisan “THE END” nya. Endingnya juga ga jelas.

Kami melanjutkan acara malam itu dengan mencari makanan yang panas-panas. Aku mau makan soto/sop yang berkuah dan hangat. Bu Nen mengajakku ke tempat makan yang semuanya ada. Ternyata aku sudah sering melewati tempat itu dan aku beberapa kali tersesat di jalan itu. Yang ku ingat hanyalah tugu di perempatan jalan bertuliskan Gadjah Mada.

Hujan gerimis malam itu melengkapi perjalanan kami di sepanjang Jalan Imam Bonjol dan tanpa diduga sebelumnya tiba-tiba hujan deras sudah menghadang di depan. Bu Nen menghentikan motornya dan memintaku untuk berteduh di teras sebuah toko tas. Bu Nen mengeluarkan jas hujan, memakainya dan meminta pendapatku untuk melanjutkan perjalanan kalo berbasah-basah ria. Aku sih setuju banget karena biar basah juga, yang dituju kan tempat tinggal, kamar. Jadi setelah bersih-bersih aku bisa langsung tidur, daripada harus berteduh dipinggiran teras sambil nunggu hujan yang tidak jelas kapan redanya. Buang-buang waktu dan tenaga kan?

Dalam keadaan seperti ini, jarak yang dekat terasa lebih jauh. Aku kasian sama Bu Nen, sudah seharian kerja masih harus ngajak aku jalan dan harus menembus hujan deras lagi-lagi untuk mengantarku pulang. Maaf ya Bu Nen jika keberadaanku sangat merepotkanmu.. L.


Tiba dikamar sudah ada 2 penghuni lain disana. Mereka sedang sibuk menulis diary. Kuperkenalkan nama dan asalku. Mereka berdua dari Kanada namanya Sarah dan Tara, datang kesini untuk berlibur. Ini adalah pertama kalinya mereka ke Bali, juga Indonesia. Tak lupa aku meminta ijin pada mereka untuk sholat disitu, dilantai persis disebelah tempat tidur mereka. Untungnya mereka tenang, ga ribut. Selesai sholat, kulihat mereka berdua sudah tertidur dan giliranku juga untuk beristirahat. fan dee na kha :)

Kamis, 30 Oktober 2014

Backpacker ke Singapore dan Kuala Lumpur hari ke 4

Senin,  12 Mei 2014
"Melaka, I'm coming"

Hari ini kami bangun benar-benar pagi karena tidak ingin melewatkan kesempatan sebagai salah satu dari 60 orang yang akan naik ke Menara Petronas. Dari buku yang aku baca, setiap hari hanya ada 60 orang yang beruntung untuk naik ke Petronas secara gratis. Jadi mumpung sedang berada di KL, kesempatan yang satu ini tidak boleh dilewatkan.

Pukul 7.30 kami sudah keluar dari hotel menuju KLCC. Setiba di Suria KLCC kami berputar-putar mencari tempat masuk untuk naik ke atas. Ternyata tempatnya tidak jauh, dari pintu masuk utama langsung ambil kekiri, dari sana tinggal ikuti saja petunjuk yang ada.
Sudah banyak juga turis yang mengantri
Kami ikut ambil bagian untuk mengantri, sudah lumayan banyak turis-turis yang mengantri. Ketika melihat disekeliling, mataku tertuju pada tulisan didinding, yaitu daftar harga tiket. Segera ku tanyakan pada petugas yang ada disana, ternyata benar, sejak 2012 dikenakan biaya untuk naik ke atas. Kalo aku tidak salah ingat, untuk harga tiket dewasa dikenakan 80 MYR, cukup mahal kan? Lebih mahal dari harga tiket bus untuk kembali ke Singapura sehingga kami putuskan untuk tidak jadi naik.

Untuk mengisi waktu yang masih ada, aku ajak teman-teman menuju taman belakang Suria KLCC.

Wow ternyata taman belakang ini cukup luas juga. Ada jogging track, kolam air mancur hias, beberapa kursi dan jembatan kecil. Kami yang mau save tenaga, tidak terlalu tertarik untuk mengelilinginya sehingga kami hanya bersantai dipinggiran kolam.

Action ka Tuti..

kok pada ketawa sih..
Ini baru sukses
Pukul 09.30 kami lanjut ke TBS. Sampai di TBS pas banget bus yang akan membawa kami ke Melaka berada diantrian berikutnya. Sedikit saja kami terlambat, terpaksa harus membeli tiket untuk keberangkatan selanjutnya yang entah masih ada atau tidak, mengingat kami juga kemarin malam kehabisan tiket kereta menuju Singapur untuk keberangkatan hari itu.

Busnya sangat nyaman, aku suka. Lucunya aku dan kak Aulia sempat menjemur beberapa potong pakaian yang masih basah yang kuletakkan dipangkuanku.
Enjoy this journey

Cepet kering yaa..
Perjalanan dari TBS ke Melaka melalui jalanan yang dihiasi pohon dikanan kiri. Sayangnya aku tidak terlalu memperhatikan keluar saat di dalam bus. Perjalanan yang memakan waktu hampir 3 jam itu kami habiskan untuk tidur, mengingat kami memang kurang tidur beberapa hari ini.

Setiba di Melaka Sentral kami menuju tempat penjualan tiket ke Singapore. Saat itu waktu menunjukkan pukul 12an siang, dan keberangkatan bus ke Singapore pada pukul 3 siang. Kami segera menitip tas lalu lanjut mencari bus Panorama menuju Stadtyus. Tempat ini mirip dengan Putrajaya Sentral, bus-bus bersusun di koridornya yang sudah tertulis nomor dan tujuan. Tidak susah mencari bus ke Stadtyus karena dari jauh sudah akan terlihat antrian panjang untuk menaiki bus, berbeda dengan bus lain yang didepannya cukup lengang.

Jalan-jalan di Melaka cukup padat dihiasi dengan rumah-rumah dan gedung-gedung bergaya kuno. Disini juga terlihat banyak hotel dan penginapan. Mengingat waktu yang kami punya hanya setengah jam disini, setiba di Stadtyus kami menyebar untuk berkeliling masing-masing. Bagiku, tempat ini sangat menarik dan enak untuk dinikmati. Mungkin perlu waktu satu atau dua hari baru akan puas berada disini. Aku bertekad bahwa suatu hari nanti aku akan kembali dan bermalam disini.
Here is Stadtyus

Kayak di Belanda yah
Peace..
Tia in action
Setelah setengah jam berkeliling, kami kembali ke tempat awal kami turun untuk menunggu bus yang akan membawa kami kembali ke Melaka Sentral.
Santai menunggu bis pulang ke Melaka Central
Setiba di Melaka Sentral, Kami berpencar lagi, Kak Tuti dan Mutia sholat sedang aku dan Kak Aulia pergi membeli tiket ke Singapur, Alhamdulillah tiket yang tersisa untuk keberangkatan ke Singapur pukul 3 masih cukup untuk kami berempat. Waktu yang sempit menyebabkan aku tidak sempat untuk sholat di sana. Pukul 3 teng bus pun berangkat. Pada perjalanan kali ini aku mendapatkan pengalaman yang sangat berharga. Karena aku tidak sempat untuk sholat di Melaka Sentral tadi, aku terpaksa sholat di dalam bis. Sebelumnya aku tidak pernah melakukan hal seperti ini, untungnya aku selalu membawa panduan sholat lengkap jika bepergian dan kak Tuti juga memberikan beberapa penjelasan mengenai itu.

Ketika aku mulai mengangkat takbir, aku merasakan haru yang luar biasa. Aku berusaha keras menahan tangis namun rasa itu semakin menjadi, dan air mata itu pun mengalir tak terbendung. Sore itu aku mendapat pelajaran yang sangat berarti yaitu bahwa aku jangan menyianyiakan waktu yang aku miliki untuk beribadah tanpa ada gangguan.

Sekitar pukul 7 malam kami tiba di Golden Mile Complex Singapore. Malam itu rencananya kami akan pergi ke Garden By The Bay, tapi sebelumnya kami sholat dan makan dulu. Secara kebetulan kami menemukan Masjid Sultan yang berada di Arab St. Sebelum berangkat, mesjid ini sangat direkomendasikan oleh teman yang berada di Singapore. Benar saja ketika selesai sholat kami bertemu beberapa teman dari Indonesia dan menanyakan beberapa hal mengenai hostel murah dan tempat makan halal di sini.

Setelah makanj di restoran padang yang ada di dekat masjid, kami lanjut ke MRT Nicoll Highway menuju GBTB. Kalo kamu ke Singapore, yang satu ini jangan sampai terlewat, menikmati indahnya Supertrees dengan kerlip lampu warna warninya.
Kayak di film-film yah..

Penampakan Singapore flyer saat malam

Bagus kan?

Ini baru namanya "ngegembel", hahaha..
Pukul 11 malam kami kembali ke Arab St. untuk istirahat dipenginapan kami yang berdekatan dengan Masjid Sultan.

Rincian biaya hari ke 4 :


Rincian biaya h4 di Malaysian dan Singapore

Kamis, 04 September 2014

Backpacker ke Singapore dan Kuala Lumpur hari ke 3

Senin, 12 Mei 2014
"Awesome Kuala Lumpur"

Hari ini kami bangun kesiangan. Habis sholat subuh, semua tertidur lagi. Alhasil, jam 11 kami baru mulai perjalanan hari ke 2 di Kuala Lumpur. Tempat pertama yang kami tuju adalah TBS untuk membeli tiket bus ke Melaka esok hari. Dari TBS lanjut ke Putrajaya, tiket KLIA dari TBS ke Putrajaya lumayan mahal, 5.3 MYR padahal biasanya sekitar 1-2 MYR saja sekali jalan dengan Monorail, KTM ato RapidKL. Hampir saja kami tidak jadi, tapi setelah berunding, kami putuskan untuk tetap berangkat ke Putrajaya dan beruntung kami tetap berangkat karena berkeliling Putrajaya adalah pengalaman yang sangat luar biasa. Tempat-tempat disana sangat amazing, aku belum pernah memasuki tempat seperti ini sebelumnya.
at TBS

Perjalanan dari TBS ke Putrajaya cukup lama, sekitar setengah jam. Tiba di stasiun KLIA Putrajaya kami turun ke bawah menuju Putrajaya Sentral. Disana terparkir bus-bus yang akan membawa kita ke berbagai tujuan seputar Putrajaya. Kami naik bus Alamanda no. 5 dengan tujuan Masjid Putra. Walo bus masih kosong, tapi bus tetap jalan. Di Bus ini kita bayar ketika naik dengan memasukkan uang ke dalam mesin yang ada di samping supir dan mesin ini juga akan langsung mengeluarkan nota plus kembalian.
Supir Bus Alamanda in action

Tiba di masjid, pas azan zuhur berkumandang. Pengennya sih ikut sholat berjamaah, tapi karena luasnya area  masjid, kami urung sholat berjamaah. kami berkeliling dahulu mencari makan, tapi sayang, kami juga tidak menemukan restoran yang menu dan harganya cocok, he.
Suasana di bagian pelataran bawah Masjid Putra
Suasana didalam Masjid Putra

Pemandangan di samping masjid

Pelataran depan masjid

Setelah sholat dan melihat-lihat sekitar masjid, kami pergi ke tempat awal kami turun dari bus. Kurang lebih satu jam menunggu sampai boring banget, baru ada bus yang singgah. Kenapa? karena area Putrajaya ini sangat luas, sehingga perjalanan dari masjid Putra ke Putrajaya Sentral memakan waktu setengah jam.
Boring menunggu bus

Lanjut perjalanan ke KL Sentral. Di KL Sentral kami sempatkan makan dan kemudian lanjut ke Padang Jawa. Dari Padang Jawa kami naik taxi ke I City. Nah ini juga pengalaman yang tidak sama seperti cerita yang aku baca. Dari yang aku baca berdasarkan pengalaman teman-teman, naik taxi dari padang jawa ke I City hanya membayar sebesar 6-10 MYR, tapi ketika kami disana harga termurah adalah 15 MYR. Karena ternyata hanya ada deretan taxi itu, terpaksa kami deal dengan harga yang diajukan.
Diperjalanan menuju I City azan berkumandang, kami tetap lanjut. Sampai I City hari sudah gelap.
I City

Tempat pertama yang kami masuki adalah Snow Walk. Sayang kami datangnya malam sehingga harga sudah naik jadi 40 MYR, sedangkan jika datang pagi sebelum tengah hari harga 1 tiket dewasa hanya 30 MYR, harga ini sudah termasuk sewa jaket, tapi tidak termasuk sewa sepatu.

Masuk Snow Walk ternyata hanya kami pengunjungnya saat itu, mungkin karena waktunya pas magrib. Tapi setelah beberapa lama, barulah datang pengunjung yang lain. Sebelumnya aku tidak pernah ke wahana salju manapun, apalagi bertemu dengan salju sungguhan, jadi ini untuk pertama kalinya. Keadaan didalam sangat dingin, kata petugas diluar suhunya sekitar -5 derajat celsius. Kak Aulia saja sampai keluar lagi saking dinginnya. Hanya aku dan Mutia yang mencoba semua wahana. Kami berdua nekat, sayang sudah bayar mahal-mahal tapi tidak dicoba semua..hehe..
Brrrrr....
Setelah mencoba semua, kami minta berfoto bareng dengan teman-teman yang menjaga wahana ini. Mereka seru dan membantu banget.
Foto bareng penjaga Snow Walk

Wahana selanjutnya yang kami masuki adalah Red Carpet. Disini letaknya patung orang-orang terkenal. Mirip dengan Madame Tussauds hanya bedanya sebagian patung disini berkulit lembut seperti kulit asli dan sebagian ada juga yang bisa bergerak.
Kondangan dulu :D

Patung yang kulitnya lembut dan bisa kita cubit adalah ratu Elizabeth dibagian jarinya, Jang geum di bagian pipinya. Jadi tidak semua bagian tubuh patung berkulit seperti asli.
Tia berhasil mengalahkan Kapten Jack

Ibu Refma mau pidato dulu, dengarkan ya..
Beberapa patung yang bisa bergerak adalah patung yang berdiri di tangga sebagai penyambut tamu. Ketika kita lewat di depannya, otomatis patung ini akan membungkuk, jadi jangan kaget ya. Patung kedua adalah patung Michael Jackson. Ketika kita mendekati patung ini, tangannya akan segera bergerak sebagaimana gerakan khas seorang MJ.
Kak Tuti membahas rumus fisika bersama Om Eistein

kak Aulia belajar Kung Fu dengan Bruce Lee

Setelah puas berfoto di Red Carpet, waktunya berkeliling taman lampu yang sangat luas diluar. Bermacam-macam bentuk dan warna lampu ada disini.
Kak Tuti di rerimbunan pohon cemara
Tia di Taman kaktus
Kak Aulia di antara tanaman bunga matahari
Tinggallah aku di taman antah berantah, hahaha..
Balik dari I City ke Padang Jawa, taxi semakin bertingkah dengan menaruh harga 20 MYR. Awalnya kami berkeras hati, kami mencoba mencari taxi lain, namun hasilnya nihil dan tidak ada pilihan lain selain balik ke taxi yang memang mangkal dengan tujuan padang jawa. Jadi untuk kamu yang akan ke I City, aku hanya berpesan tidak usah mencari alternatif harga dengan mencari taxi lain, karena itu akan sia-sia dan membuat malu diri sendiri saja. Apa yang terjadi dengan kami, tidak usah lagi terulang pada kamu semua.

Sampai Padang Jawa hari sudah pukul 11 malam. Perjalanan padang jawa ke Kl Sentral memakan waktu kurang lebih 1 jam. Selain kami, hanya ada 2 orang lain yang menunggu kereta. Masuk kereta suasana sangat sepi karena gerbong kosong hanya ada kami dan beberapa penumpang lain. Karena kelelahan kami semua tertidur sampai tiba di Kl Sentral. Dari KL Sentral kami berusaha mencari kereta menuju Bukit Bintang yang berada di gedung sebelah. Kami keluar dan berusaha masuk gedung diseberang. Pintu-pintu sudah tertutup, tapi satpamnya memperbolehkan kami masuk namun harus memutar dulu karena pagar juga sudah terbentang selebar gedung. Berhasil masuk, mall ini juga sudah tutup semua. Kami hanya keluar masuk lorong, terjebak didalam mall. Kesana kemari yang ada hanya pintu dan lorong yang kosong. Kami putuskan untuk melompat keluar dan ternyata kami masuk tempat partkir yang juga sudah tutup, hanya ada beberapa orang pekerja bangunan yang mungkin memang bekerja pada malam hari. Kami baru sadar bahwa itu sudah tengah malam dan sia-sia saja untuk terus mencari stasiun monorel. Selanjutnya kami fokus mencari jalan keluar. Tiba diluar, perjuangan selanjutnya adalah mencari taxi yang akan mau mengantar kami ke Jl. Alor di Bukit Bintang. Dengan ragu-ragu kami menyetop taxi yang lewat namun alhamdulillah ada yang singgah dan supirnya baik, mau dibayar dengan argo.

Sungguh petualangan yang sangat menegangkan. Di negeri bahkan dikampung sendiri saja aku tidak pernah keluyuran dijalan sampai tengah malam, tapi dinegeri orang, hal ini cukup menantang, hahaha... hanya hamdalah yang terucap karena kami masih sehat dan selamat.

Rincian biaya hari ke 3 :

Rincian biaya h3

Kamis, 21 Agustus 2014

Bus City Tour Jakarta

Aku pertama kali liat bus ini pas di dalam taxi pulang dari Tanah Abang menuju hotel di Jl. Hayam Wuruk. Busnya unik dan bagus. Makin unik lagi karena supir nya semua cewek. Bus ini adalah bus pariwisata yang akan membawa penumpang berkeliling di jalan-jalan utama kota Jakarta dengan gratis. Tapi per 1 Januari 2015 nanti, untuk naik bus ini akan dikenakan biaya.

Aku sangat tertarik untuk mencoba bus ini. Kebetulan pas pergi ke KL pertengahan Mei kemarin aku tidak sempat mencoba bus GO KL, maka ga apalah jika bus lokal ini sebagai gantinya, hehe..
Bus ini berhenti di beberapa halte. Halte terdekat yang bisa dengan mudah aku capai adalah halte Juanda yang berada diseberang Halte Busway Juanda persis di samping mesjid Istiqlal. Bus ini beroperasi mulai dari jam 9 pagi.

Hari terakhir di Jakarta masih ada waktu beberapa jam sebelum ke bandara. Subuh-subuh aku bersama tiga teman lain menyempatkan diri untuk sholat subuh berjamaah di Istiqlal. Sehabis sholat aku memisahkan diri karena tujuan kami berbeda. Teman-teman ingin beli oleh-oleh ke pasar senen sedangkan aku ingin pergi ke Kota tua dan mencoba bus City Tour.

Seperti biasa, aku sempatkan lagi untuk berkeliling disekitar Istiqlal. Ketika matahari mulai naik, akupun turun untuk mencari breakfast. Tempat berkumpulnya pedagang makanan pagi itu sepi, karena sebagian mereka ada yang sudah mulai berpuasa pada hari itu, 28 Juni 2014. Alhamdulillah ada satu tukang bubur yang masih berjualan.
Puncak monas masih terlihat menyala
Baru dapat spot lain yang lumayan :-)

Selesai makan aku lanjut ke Kota Tua dengan naik Busway. Tiba di Kota Tua suasana masih sepi. Sampah bertumpuk dimana-mana. Para penyedia jasa sewa sepeda masih membersihkan dan menyusun sepeda mereka. Sebagian petugas kebersihan terlihat masih menyapu sampah-sampah yang tersisa. Dari jauh kulihat seorang wanita berpakaian serba ungu memasuki halaman Museum Fatahillah. Dia adalah komunitas Manusia Batu sebagai Nonie Belanda. Aku sempatkan juga untuk berfoto dengannya. Seorang lagi dibelakangku sedang bersiap-siap, warna tubuhnya keperakan dengan baju berwarna keemasan.
Berpose dulu bareng sepeda-sepeda cantik
Foto bareng anak-anak Bogor, sayang sampah-sampah masih terlihat
Komunitas Manusia Batu "Nonie Belanda"

Aku melanjutkan bersepeda berkeliling ke arah Museum Pos Indonesia.Tak banyak yang bisa aku lakukan karena semua masih tutup.

Pukul 8 aku segera menuju halte Busway Kota. Ada yang mengecewakan disini. Ketika akan membeli tiket menuju Halte Juanda, aku diharuskan membeli e-tiket, tiket elektronik yang bisa diisi ulang. Harga perdananya 20 ribu untuk 5 kali pakai. Bukan masalah harga yang lebih mahal yang aku permasalahkan, tetapi tidak ada toleransi untuk penumpang yang berasal dari luar kota Jakarta.

Menurutku akan lebih bijak jika tiket ini tidak dipukul rata untuk setiap penumpang. Karena tidak semua orang akan memakainya lagi. Sebaiknya pembelian e-tiket hanya diwajibkan untuk masyarakat Jakarta yang sering bepergian dengan Busway, sedangkan bagi para penumpang yang berasal dari daerah lain boleh menggunakan tiket one way seperti biasa. Untuk memilahnya, Petugas bisa meminta KTP calon penumpang.

Akhirnya aku patungan bersama tiga calon penumpang lain. Satu dari Sulawesi dan dua lagi ayah dan anak dari Tangerang. E-tiket itu kami serahkan saja kepada ayah dan anak dari Tangerang, karena domisili mereka yang paling dekat dengan Jakarta.

Tiba di Halte Juanda aku langsung menyeberang ke halte City Tour. Tidak terlalu lama disana, tibalah bus yang ditunggu. Aku dan beberapa calon penumpang lain yang tadi bersamaku dihalte langsung menuju tangga untuk naik ke atas. Aku berhasil duduk didepan agar bisa puas menikmati pemandangan Ibukota.
Halte City Tour yang persis berseberangan dengan halte Busway Juanda

Suasana di tingkat atas bus

Pemandangan dari atas

Bus beberapa kali berhenti untuk menurunkan dan menaikkan penumpang. Ketika Bus memasuki wilayah Monas, aku turun ke bawah untuk melihat ibu supir dan guide yang sedang bekerja.
Disuatu halte, bus berhenti cukup lama, sehingga aku sempat berfoto bareng dengan ibu supir dan guidenya.

Suasana di tingkat bawah

tangga menuju keatas
Bu supir dan mbak guide sedang bekerja
Peaceee...
Actiooon...

Aku turun dihalte yang sama ketika aku naik karena persis berseberangan dengan halte Busway sehingga aku dapat dengan mudah kembali ke Hotel dengan menggunakan Busway lagi.
Bus City Tour Jakarta, bye..

Waktu masih tersisa dua jam sebelum waktunya cek out, kumanfaatkan untuk packing dan sholat zuhur. La Korn Jakarta..